skip to main | skip to sidebar

Pages

Kamis, 04 November 2010

Pelda P.L. Tobing, Penyergap Pembajak Pesawat Garuda Woyla

0 komentar
“Tunjukkan jati dirimu, lebih baik kita pulang nama dari pada gagal di medan laga”. Perintah Alm Jenderal TNI LB Murdhani itulah yang memotivasi semangat pengabdian dan pengorbanan Pelda Pontas Lumban Tobing berani berhadapan langsung dengan pembajak untuk membebaskan para penumpang pesawat Garuda Woyla yang disandera pembajak di Don Muang Thailand. Atas jasanya itu Pelda Pontas Lumban Tobing menerima anugerah kehormatan medali “Bintang Sakti Mahawira Ibu Pertiwi” sebagai penghargaan atas pengabdian dan pengorbanannya yang patut dijadikan suri tauladan bagi semua generasi penerus prajurit TNI. Pembebasan penumpang pesawat Garuda DC-9 Woyla di bandara Don Muang Thailand merupakan peristiwa spektakuler, bahkan banyak yang menilai keberhasilan itu melebihi keberhasilan Israel dalam membebaskan sandera di Entebbe Uganda. Keberhasilan TNI dalam hal ini Kopassus dalam aksi pembebasan sandera itu tidak lepas dari perang Pelda Pontas Lumban Tobing salah seorang anggota Kopassus yang tergabung dalam tim pembebasan dan bertindak sebagai penyergap bersama temannya almarhum Ahmad Kirang yang gugur dalam aksi itu. Pak Tobing demikian ia dipanggil sehari-hari rela telah menunjukkan keberanian dan ketebalan tekad melampaui dan melebihi panggilan kewajiban dalam melaksanakan tugas mulia. Dia dan alm Ahmad Kirang mendobrak pintu pesawat DC-9 Garuda Woyla menyergap masuk menghadapi para pembajak yang berjumlah 5 (lima) orang bersenjata lengkap.Dia dan alm Ahmad kirang langsung berhadapan dengan para pembajak dan saat itu pula juga terjadilah tembak menembak yang tidak seimbang antara penyergap melawan pembajak. Dua anggota TNI Pelda Pontas Lumban Tobing dengan Capa Ahmad Kirang melawan lima pembajak pembajak ditengah histeria ketakutan para penumpang pesawat DC-9 Garuda Woyla di Bandara Don Muang. Dua orang yang belum bisa membedakan mana pembajak dan mana penumpang. Sementara pembajak sudah siap menghamburkan pelurunya kepada siapapun penerobos yang akan membebaskan para sandera. Dalam adu tembak yang berlangsung tidak lebih dari 5 menit itu 4 pembajak berhasil ditembak mati dan satu orang lainnya dilumpuhkan. Capa Ahmad Kirang gugur dalam aksi penyelamatan sandera itu dengan sejumlah luka tembak di badannya. Sementara Pelda Tobing sendiri kena dua tembakan masing-masing dibagian rusuk dan tangannya.

Pelda Tobing yang pensiun dengan pangkat Kapten menjelaskan bahwa ia tidak mengira, namun bangga ditunjuk menjadi anggota tim pembebasan pesawat Garuda yang disandera oleh pembajak di Don Muang dibawah pimpinan dua perwira yang sangat ia segani yaitu Jenderal TNI Alm LB Murdhani yang saat itu berpangkat Letjen dan Letjen TNI Purn Sintong Panjaitan yang saat itu masih berpangkat Letkol. PL Tobing ketika dipanggil untuk menjadi anggota tim pembebasan saat itu ia masih bertugas di Salemba sebagai pelatih komandan batalyon resimen mahasiswa dari seluruh perguruan tinggi di Indonesia.

“Pada tanggal 29 Maret 1981 pagi-pagi, tiba-tiba saya mendapatkan telepon dari Markas Kopassus (saat itu masih Kopassandha) yang menurut anak buah saya katanya dari Letkol Sintong Panjaitan”, ungkapnya. Sintong Panjaitan memerintahkannya segera ke Cijantung secepatnya. “Saya lihat dibawah sudah menunggu anggota Provost yang siap menjemput saya ke Cijantung, saat itu pula saya berangkat ke Cijantung tetapi saya tidak tahu tugas apa yang harus saya laksanakan”, imbuhnya.

Dia mendapatkan penjelasan di Cijantung langsung dari Sintong Panjaitan bahwa tanggal 28 Maret 1981 pesawat Garuda Woyla di bajak di Don Muang Thailand. Pasukan TNI dari Kopassandha dibawah pimpinan Letkol Sintong Panjaitan dan dibawah koordinasi langsung Letjen TNI LB Murdhani memiliki tugas membebaskan para sandera dan melumpuhkan pembajak.

Pada hari itu juga, menurut PL Tobing Tim Khusus yang berjumlah 30 orang dengan berpakaian sipil diberangkatkan ke Don Muang dengan menumpang pesawat garuda jenis DC-10. Menurut Tobing semua penumpang nampak gelisah dan ditengah-tengah kegelisahan itu tiba-tiba muncul perintah dari Letjen TNI LB Murdhani agar seluruh prajurit memakai seragam lengkap Kopassandha. “Tunjukkan jati dirimu, lebih baik kita pulang nama dari pada gagal di medan laga. Kata-kata itulah yang memotivasi semangat dan keberanian saya untuk berhadapan langsung dengan pembajak dan membebaskan para penumpang yang disandera meskipun harus mengorbankan nyawa saya “, pengakuan Tobing. Maka saya yang ditugaskan sebagai penyergap bersama almarhum Ahmad Kirang tidak gentar sama sekali mendobrak pintu pesawat yang dibajak dan langsung berhadapan dengan para pembajak, tambahnya.

PL Tobing dan Ahmad Kirang mendobrak pintu utama untuk menerobos pesawat yang dibajak, meskipun awalnya sesuai rencana di perintahkan masuk melalui pintu darurat. “Pertimbangan saya dan Ahmad Kirang kalau secara senyap masuk melalui pintu darurat begitu nongol akan di gorok pembajak dan kita tidak bisa membedakan mana pembajak dan mana penumpang, maka kita berinisiatif dan memutuskan untuk melalui pintu utama”, jelas Tobing. Ketika berhasil mendobrak pintu dan masuk ke pesawat saya langsung berteriak sekeras-kerasnya” Penumpang Tiaraaaaappp” dengan harapan semua penumpang tiarap kecuali pembajak untuk membedakannya, karena kita memang tidak bisa membedakannya dan kita belum bisa melihat apa-apa di badan pesawat karena mata kita masih beradaptasi, tambahnya. Ternyata apa yang dilakukan Tobing memang benar adanya. Seluruh penumpang tiarap keculai pembajak yang saat itu langsung memberondongnya dengan tembakan.

Seperti dituturkanya, kejadian tembak menembak itu telah menewaskan teman seperjuangannya Capa Ahmad Kirang dan dia sendiri mengalami dua luka tembak yang terpaksa mengharuskan dia dirawat di Rumah Sakit Gatot Subroto beberapa waktu lamanya. Namun Tim Khusus dari Kopassandha dan tentu saja karena semangat pengabdian dan pengorbanan 2 orang tim penyergap yaitu almarhum Lettu Anumerta Ahmad Kirang dan Pelda Pontas Lumban Tobing ini telah berhasil menambah torehan emasnya membebaskan para penumpang pesawat DC-9 Garuda Woyla di Don Muang Thailand. Atas jasanya itu Pelda Pontas Lumban Tobing menerima anugerah kehormatan medali “Bintang Sakti Mahawira Ibu Pertiwi” sebagai penghargaan atas pengabdian dan pengorbanannya yang patut dijadikan suri tauladan bagi semua generasi penerus prajurit TNI.

Ketika ditanya tentang perasaan apa setelah ia berhasil melaksanakan tugas pembebasan penumpang pesawat Garuda Woyla yang sangat spektakuler itu PL Tobing dengan rendah hati dan jujur mengaku bangga. “ Saya dianugerahi Bintang Maha Sakti dan mendapatkan kenaikan pangkat luar biasa setingkat lebih tinggi menjadi Peltu“, ungkapnya. Namun jujur saya katakan kenaikan pangkat luar biasa itu bagi saya kurang tepat, karena tanpa kenaikan pangkat luar biasa itu sebetulnya saya sudah diusulkan oleh satuan naik pangkat secara reguler menjadi Peltu. Memang hal ini pernah menjadi pembicaraan di kalangan satuan saya, tapi biarlah yang penting kita dapat melaksanakan tugas dengan baik. “Tapi saya pesan moga-moga pimpinan TNI memperhatikan kehidupan para penyandang kehormatan Bintang Maha Sakti ini yang jumlahnya tidak banyak. Kan bapak-bapak akan repot sekali bila harus mengangkat jenasah saya dari rumah ini menuju TMP, karena rumah saya yang jelek dan berada di gang sempit ini”, pesan PL Tobing.

“Memang betul apa yang dikatakan Pak LB Murdhani, lebih baik pulang nama dari pada gagal di medan laga, dan itu saya kira harus ditanamkan dalam jiwa seluruh prajurit TNI”, ungkapnya. Semangat ini yang harus dipelihara, karena saya lihat sudah banyak yang mulai luntur. Rata-rata hanya mengejar materi. “Kita harus bisa membedakan mana yang emas 22 karat, mana emas palsu. Mana perunggu? Dan hal ini yang harus dimiliki oleh para pemimpin TNI terutama dalam menilai anak buah yang diharapkan menjadi calon pemimpin masa depan”, tuturnya. Pembinaan karir jangan hanya didasarkan pendidikan saja, tapi juga harus didasarkan pengalaman dan pengabdiannya, tambahnya.

Agustinus Adi Sucipto, Orang Pertama Yang Menerbangkan Pesawat di Indonesia

0 komentar
Marsekal Muda (Pur) Agustinus Adisutjipto akrab dipanggil Cip namun kemudian rekan-rekannya memanggilnya Pak Adi merupakan putra pertama dari lima bersaudara buah perkawinan Roewidodarmo dan Latifatun. Adisutjipto, kelahiran Salatiga 3 Juli 1916, sangat gemar bermain sepakbola, naik gunung, tenis dan catur. Intelektualitasnya terasah lewat hobinya membaca buku-buku kemiliteran dan filsafat. Pribadinya dikenal pendiam, namun sangat reaktif bila harga dirinya terinjak.Ketika Jepang mendarat Maret 1942, peta penerbangan Hindia Belanda berubah. Adisutjipto yang ketika PD II pecah ditempatkan di skadron intai di Jawa beserta rekan-rekannya seperti Sujono, Sulistyo, dan Husein Sastranegara, tidak pernah lagi terbang. Semua yang berbau Belanda dimusnahkan. Untuk mengisi kekosongan, Cip bekerja di perusahaan angkutan bus milik Jepang.

Sejak pekik kemerdekaan berkumandang 17 Agustus 1945, satu demi satu muncul berbagai tuntutan. Termasuk penerbangan militer. Suryadarma bertindak cepat. Para eks penerbang AU Hindia Belanda, seperti Adisutjipto, dipanggilnya. Berbagai langkah konsolidasi, mulai dari mengumpulkan ratusan pesawat sampai mengupayakan perbaikan pesawat-pesawat peninggalan Jepang, diambil.

Usaha Suryadarma langsung berbuah. Buktinya, Adisutjipto berhasil menerbangkan pesawat Nishikoren dari Cibereum ke Maguwo, 10 Oktober 1945. Peristiwa ini tercatat sebagai penerbangan pertama di wilayah RI merdeka oleh awak Indonesia. Tujuhbelas hari kemudian, kembali Adisutjipto membakar semangat perjuangan dengan menerbangkan pesawat Cureng bertanda merah putih. Peristiwa ini mengukir lagi catatan sejarah, sebagai penerbangan berbendera merah putih pertama di tanah air.

Adi Sucipto terbang ke India untuk mengambil obat-obatan dan sekembalinya dari India ketika memasuki wilayah Indonesia. Di ujung cakrawala, terlihat pesawat Dakota VT-CLA melakukan approach. Para penumpangnya, Adisutjipto, Abdulrachman Saleh, AN Constantine (pilot), R Hazelhurst (ko-pilot), Adisumarmo Wiryokusumo (engineer), Bhida Ram, Nyonya Constantine, Zainal Arifin (wakil dagang RI), dan Gani Handonocokro, tentu bahagia karena sesaat lagi akan mendarat. Begitu juga Sudarjono yang lagi piket, akan bertemu dengan kakaknya.

Sekonyong-konyong, muncul dua pesawat P-40 Kitty Hawk Belanda dari arah utara yang langsung memberondong Dakota, pesawat sipil yang jelas-jelas membawa bantuan. Pesawat kehilangan ketinggian, melayang kencang dan menyambar sebatang pohon hingga badannya patah menjadi dua bagian. Begitu pesawat terhempas ke tanah, langsung terbakar. Suryadarma dan semua orang penunggu, berlarian ke arah pesawat naas.

Nurtanio Pringgoadisuryo, Perintis Industri Penerbangan Indonesia

0 komentar
Nurtanio Pringgoadisuryo (lahir di Kandangan, Kalimantan Selatan, 3 Desember 1923 – meninggal 21 Maret 1966 pada umur 42 tahun adalah sebagai perintis industri penerbangan Indonesia. Bersama Wiweko Soepono, Nurtanio membuat pesawat layang Zogling NWG (Nurtanio-Wiweko-Glider) pada tahun 1947. Ia membuat pesawat pertama all metal dan fighter Indonesia yang dinamai Sikumbang, disusul dengan Kunang-kunang (mesin VW) dan Belalang, dan Gelatik (aslinya Wilga) serta mempersiapkan produksi F-27.

Cita-citanya besar, keliling dunia dengan pesawat terbang buatan bangsanya. Untuk itu, disiapkanya pesawat Arev (Api Revolusi), dari bekas rongsokan Super Aero buatan Cekoslowakia yang tergeletak di Kemayoran. Karena dedikasinya yang tinggi, setelah Nurtanio gugur dalam penerbangan uji coba Arev, namanya diabadikan menjadi Industri Pesawat Terbang Nurtanio (sekarang IPT-Nusantara/IPTN/PT Dirgantara Indonesia).

Cita-cita dan keinginan serta kecintaannnya akan dunia kedirgantaraan sudah dia awali sejak masa Hindia Belanda. Nurtanio pada saat itu berlangganan majalah kedirgintaraan Vliegwereld, dan menekuni masalah aerodinamika dan aeromodelling. Pada masa itu, Nurtanio sering mengadakan surat menyurat dan korespondensi dengan sesama pencinta Aeromodelling pada zaman Hindia Belanda. Diantaranya adalah Wiweko Soepono yang saat itu sudah mendirikan perkumpulan pencinta Aeromodelling serta berlangganan majalah Vliegwereld.

Junior Aero Club

Pada masa pendudukan Jepang, di sekolah menengah tinggi teknik atau Kogyo Senmon Gakko, Nurtanio mendirikan perkumpulan Junior Aero Club yang isinya tentang bagaimana teknik pembuatan pesawat model yang merupakan dasar-dasar Aerodinamika. Karena pada masa pendudukan Jepang penggunaan bahasa Inggris dilarang, maka untuk menghidari kecurigaan ditempaknya dua orang pengawas berkebangsaan Jepang diantaranya adalah Tuan Imazawa. Disinilah Nurtanio berkenalan dan bertemu dengan R.J Salatun, yang juga berminat dalam masalah penerbangan dan kebetulan berlangganan majalah kedirgantaraan yang sama yakni Vliegwereld. Pada saat itu peserta dibatasi karena para pesertanya yang sebelumnya membludak, jadi hanya tinggal sedikit.

Di JAC, Nurtanio dan sahabatnya, R.J Salatun, juga bertemu dengan guru olahraga yang bernama Iswahyudi yang juga memiliki pengetahuan dalam masalah penerbangan, yang ketika perang dunia II pecah, sedang mengikuti pendidikan penerbang militer Belanda yang kemudian diungsikan ke Australia. Perhatian Nurtanio pada masa itu tidak hanya dalam masalah pesawat model tetapi bahkan menekuni buku-buku teknik penerbangan yang saat itu banyak berbahasa Jerman serta sudah menekuni dan menggambar rancangan glider atau pesawat layang type Zogling yang merupakan obsesinya.

Masa kemerdekaan Republik Indonesia

Pada awal kemerdekaan Indonesia, Nurtanio bergabung dengan Angkatan Udara di Yogyakarta yang dipimpin oleh Suryadi Suryadarma yang pada masa itu disebut dengan TKR Jawatan Penerbangan. Nurtanio mencari R.J Salatun untuk bergabung juga dengan TKR Jawatan Penerbangan. Disana, juga bergabung Prof. Ir. Rooseno dan Wiweko Soepono. Nurtanio kemudian diberi jabatan Sub Bagian Rencana di bagian Kepala Bagian Rencana dan Penerangan (semula dinamakan Propaganda namun diganti karena berkesan seperti Bagian Propaganda Nazi yang dijabat oleh sahabat Adolf Hitler, Joseph Gobbels) yang dijabat oleh Wiweko Soepono sedangkan R.J Salatun mendapat jabatan bagian penerangan. Ketiga orang ini yang kemudian disebut sebut sebagai tiga serangkai perintis kedirgantaraan Indonesia tersebut kemudian melaksanakan tugasnya antara lain mendesain tata kepangkatan Angkatan Udara yang dibantu oleh Halim Perdanakusuma yang pernah berdinas di Angkatan Udara Kerajaan Inggris (Royal Air Force/RAF) dan persiapan-persiapan lainnya. Sedangkan Nurtanio langsung mendesain glidernya.

Kemudian Suryadarma memindahkan koleksi buku-buku militer dan penerbangannya ke kantor yang menjadikannya sebagai perpustakaan Angkatan Udara yang pertama, yang sering hadir di perpustakaan itu adalah Adisutjipto dan Abdulrachman Saleh.

Nurtanio akhirnya berhasil menyelesaikan rancangan glidernya, ia kemudian bersama Wiweko Soepono pindah ke Maospati karena lebih lengkap fasilitasnya dibandingkan di Maguwo, Yogyakarta.

Pesawat Glider NWG-1

Setelah pindah ke Maospati, Nurtanio berhasil membuat beberapa glider yang dinamakan NWG-1 (Nurtanio Wiweko Glider). Pesawat ini adalah pesawat satu-satunya buatan Indonesia dengan kandungan lokal hingga 100 persen hingga hari ini. Dibuat dari kayu jamuju yang dicari di daerah Tretes untuk mengganti kayu spruce, sayap dibalut dengan kain blaco pengganti kain linen dan kemudian diolesi bubur cingur pengganti thinner. Pesawat Glider ini kemudian digunakan untuk melatih kadet-kadet penerbang yang akan dikirim ke India guna pendidikan penerbang lebih lanjut.

Sekitar tahun 1948, Nurtanio kemudian ditugaskan ke Manila, Filipina untuk melanjutkan studi kedirgantaraannya di FEATI (Far Eatern Aero Technical Insitute). Sebagai bekal hidup, Nurtanio membawa kerajinan perak Yogyakarta yang ternyata susah untuk dijual.

Si Kumbang

Pada masa selesainya perang kemerdekaan (sekitar tahun 1950), Nurtanio berhasil merancang dan membuat pesawat Si kumbang yang merupakan pesawat all metal pertama Indonesia itu. Nurtanio kemudian berencana menerbangkan ke daerah Sekaten, Yogyakarta dari Bandung. Sahabatnya R.J Salatun mempunyai firasat buruk tentang penerbangan itu dan berniat membatalkannya. Karena dia punya akses langsung kepada Kepala Staf Angkatan Udara Suryadarma, Salatun memberikan argumen kepada Suryadarma agar membatalkan rencana penerbangan Nurtanio ke Yogyakarta dengan alasan Nurtanio adalah satu-satunya kostruktur penerbangan yang dimiliki Angkatan Udara. Suryadarma setuju dengan alasan Salatun dan memerintahkan stafnya untuk memberikan radiogram pembatalan rencana penerbangan ke Yogyakarta. Untuk mengobati rasa kesalnya, Nurtanio menerbangkan pesawat Sikumbang itu keliling udara Bandung di sekitar Lanud Husein Sastranegara.

Tidak lama kemudian pesawat itu didaratkan di Lanud Husein karena mengalami gangguan berupa mesinnya mati. Nurtanio mengambil kesimpulan seandainya dia melakukan penerbangan ke Yogyakarta, maka dia harus mendarat darurat di daerah rawan yang masih dikuasai DI/ TII karena mengalami mesin mati.

Pada saat itu, Indonesia menerima berbagai macam pesawat dan peralatan perang dari Belanda sebagai pelaksanaan pengakuan kedaulatan yang merupakan buah dari Konfrensi Meja Bundar. Untuk Angkatan Udara, Indonesia menerima berbagai pesawat diantaranya P-51 Mustang, Pembom sedang/ringan B-25 Mitchell dan pesawat angkut DC-3 Dakota. Pesawat-pesawat itu masih berwarna metal aluminium karena tidak diberi cat kamuflase. Alasan Nurtanio adalah pesawat itu permukaannya menjadi lebih licin sehingga mengurangi hambatan (drag). Namun kemudian muncullah gejala politik kurang baik yang diwarnai pembentukan dewan-dewan daerah oleh pimpinan wilayah politik dan pimpinan wilayah angkatan perang (yang dijuluki warlord) sebagai protes akibat kebijakan pemerintah pusat yang secara ekstrim dapat menjurus kearah disintegrasi. Bila kemungkinan itu terjadi, maka Angkatan Perang Indonesia khususnya Angkatan Udara Republik Indonesia akan dibuat repot.

Untuk mempersiapkan diri terhadap kemungkinan terburuk, R.J Salatun yang menjabat sebagai Sekretaris Dewan Penerbangan merangkap Sekretaris Gabungan Kepala-Kepala Staf memberi masukan kepada KSAU Suryadarma untuk mulai memberi kamuflase kepada pesawat-pesawat AURI selagi PO (periodiek overhaul). Dengan demikian jika terjadi konflik, AURI tidak akan kerepotan. Nurtanio kecewa dan bertanya hal itu untuk apa. Tidak lama kemudian ketika AURI jadi ujungtombak penumpasan PRRI/Permesta, seluruh armada udaranya sudah diberi kamuflase.

Pesawat Gelatik dan merintis Aeroindustri

 
Pada masa Menteri Keamanan Nasional dijabat oleh Jenderal A.H. Nasution dan deputinya Jendral Hidayat, Nurtanio memperoleh kredit dari Polandia sebesar (atau sekecil) 1,5 juta dollar Amerika Serikat untuk Depot Penyelidikan, Percobaan dan Pembuatan AURI menjadi LAPIP (Lembaga Persiapan Industri Penerbangan yang merupakan cikal bakal IPTN nantinya). Caranya, dengan alih teknologi produksi melalui perakitan pesawat pertanian PZL-104 Wilga yang dinamai Gelatik oleh Presiden Soekarno. Dalam mengajukan proposalnya, Jenderal Nasution maupun Jenderal Hidayat sangat terkesan oleh sifat Nurtanio yang begitu realistis dan tidak muluk-muluk.

Menurut Ir. Hoo Kian Lam (pemilik pesawat terbang Walraven W-2 PK-KKH dan pernah berusaha mendirikan industri penerbangan pada masa Hindia-Belanda), yang ikut serta dalam kunjungan ke pabrik PZL di Warsawa, Nurtanio yang memimpin delegasi menerbangkan sendiri pesawat Wilga hingga sangat mengesankan bagi pejabat-pejabat Polandia.

Namun ketika usulan R.J Salatun berdasarkan pengalamannya pada tahun 1958 ketika ditawari Perdana Menteri RRC, Chou-en Lai untuk memproduksi pesawat jet Type 56 (lisensi MiG-17 versi China), Nurtanio berkata bahwa untuk proyek Gelatik yang begitu membumi saja dukungan dana dan pembiayaannya sudah tersendat-sendat. Ketika proyek Wilga/Gelatik berjalan, Nurtanio mengeluhkan kondisi sosial ekonomi para karyawannya yang membuat kaget orang Polandia. Sampai satu kali mereka perhatikan, kenapa semua karyawan meninggalkan pekerjaannya. Ternyata sedang mengantri minyak tanah.

Namun sejarah mencatat, bahwa SDM yang dididik di perakitan pesawat Gelatik berperan besar saat Lapip menjadi Lipnur (Lembaga Industri Penerbangan Nurtanio) yang merupakan modal dasar IPTN pada tahap permulaan. Pada dasawarsa 70-an, Marsekal TNI (purn) Ashadi Tjahjadi (mantan Kepala Staff Angkatan Udara/KSAU) melihat jig (cetakan untuk produksi) pesawat Gelatik yang diterlantarkan di udara terbuka di halaman Lipnur. Ashadi berniat memanfaatkan lagi untuk suatu usaha bagi para purnawirawan AURI (TNI-AU) berupa major overhaul pesawat -pesawat Gelatik. Alangkah mengecewakan ketika gagasan itu ditolak oleh B.J. Habibie dengan alasan itu termasuk aset perusahaan.

Selain kegiatannya di LAPIP, Nurtanio bersama staf dan penerbang AURI juga aktif dalam memantau kesiapan teknis armada-armada udara yang dimiliki AURI saat itu. Diantaranya adalah kelemahan pada pesawat tempur MiG-19 Farmer versi awal yang dioperasikan AURI yang selalu memberikan indikasi adanya kesalahan saat digunakan meski pesawat ini memberikan keselamatan dan keamanan dengan penggunaan mesin ganda. Setelah terjadi pembicaraan antara R.J Salatun, Nurtanio dan Leo Wattimena (salah seorang penerbang legendaris AURI selain Rusmin Nuryadin), kesalahan itu terletak pada tongkat kemudinya (stick force) yang selalu berubah-ubah (tidak stabil). Sebenarnya KSAU Suryadarma menolak menerima pesawat itu namun Deputi KSAU Uni Soviet Marsekal Rudenko dalam perundingan di Kremlin dimana R.J Salatun ikut hadir, mengancam bahwa dua skadron (sekitar 24 pesawat) pesawat tempur MiG-21 Fishbed tidak dapat diberikan kecuali Indonesia mau menerima 10 pesawat tempur MiG-19 Farmer. Pesawat MiG-19 ini kemudian pada awal orde baru dijual ke Pakistan.

Tahun 1964, AURI menjalin kerjasama dengan Insitut Teknologi Bandung dan Pindad untuk mengembangkan roket di bawah proyek “PRIMA” (Proyek Pengembangan Roket Ilmiah dan Militer Awal) yang dipimpin Budiardjo dan R.J Salatun. Hasil kongkritnya adalah terciptanya Roket Ilmiah Kartika I yang merupakan roket sounding kedua di negara Asia-Afrika saat itu, sesudah Jepang. Alat telemetrinya yang kedua sesudah India, berhasil merekam sinyal-sinyal dari satelit cuaca TIROS dengan alat buatan dalam negeri. Pada waktu roket Kartika sedang didesain, para sarjana dan teknisi LAPIP ikut dikerahkan.

Sekitar pertengahan tahun 1965, didirikan KOPELAPIP yang bertujuan membuat pesawat Fokker F -27. Pilihan atas F -27 dapat dimengerti, karena pasarnya besar meskipun pabrik Fokker rupa -rupanya menganggap bahwa pesawat itu sudah melewati puncak produksinya sehingga yakin akan mengalami penurunan. F-27 secara operasional merupakan pesawat yang handal, meskipun jika diperhatikan dari teknik produksi bagi industri penerbangan pemula semacam KOPELAPIP di Indonesia pada masa itu sangat terlalu maju yakni teknik pembuatannya tidak pakai paku keling tetapi dengan merekatkan lempengan-lempengan aluminium (metal bonding).
Proyek itu merupakan suatu langkah maju yang ambisius mengingat investasi di bidang industri penerbangan sangat minim. Pengambil keputusan yang tertinggi tidak ayal lagi tergiur oleh cara pendanaan proyek yang mengandalkan hasil ekspor komoditi lemah seperti kumis kucing atau kayu manis.
KOPELAPIP dipimpin seorang menteri. Pengurusnya terdiri dari orang-orang yang (maaf), sebelumnya tidak pernah terdengar ada kaitannya dengan pembuatan pesawat terbang atau kedirgantaraan. Sahabatnya, R.J Salatun tidak tega menanyakan kepada Nurtanio tentang KOPELAPIP karena setelah berjerih-payah puluhan tahun dalam merintis industri kedirgantaraan di Indonesia dari nol, sekali tempo ada jabatan menteri, ternyata bukan diberikan kepadanya. Kemudian terdengar kabar bahwa bertentangan dengan gagasan semula tentang cara pendanaan dengan komoditi lemah, sang menteri minta izin ekspor minyak bumi.

Akibat meletusnya G-30S/PKI dan pergantian pemerintahan, maka KOPELAPIP mengalami kegagalan. Bahkan kemudian hal itu membawa keuntungan bagi pabrik Fokker, larisnya pesawat turboprop Fokker F-27 yakni timbulnya krisis energi terutama minyak bumi akibat konflik di Timur Tengah karena pecahnya Perang Enam Hari dan Perang Yom Kippur, yang membuat pasaran pesawat turboprop yang dikenal hemat bahan bakar melonjak disamping munculnya seorang salesman berbangsa Inggris yang ulung telah mendongkrak pemasaran pesawat F -27 hingga menjadi paling laris diantara produk-produk Fokker.

Akhir pengabdiannya

Nurtanio tetaplah seorang Nurtanio, dari seorang aero-modeller hingga menjadi pejabat resmi yang memimpin LAPIP. Pekerja keras, tidak banyak omong (bombastis), rendah hati, sopan santun, serta bekerja dengan serba apa adanya dengan biaya rendah (low cost). Pesawat-pesawat yang diciptakannya memanfaatkan komponen dan suku cadang yang ditemukan di berbagai gudang yang tak terpakai. Gaya pendekatan yang serba rasional, tidak muluk-muluk dan sangat membumi, sesuai dengan kondisi Indonesia yang sejak awal kemerdekaan dianggap praktis tidak pernah ideal hingga sulit menciptakan kontinuitas dan konsistenitas. Tetapi gaya Nurtanio yang realistis juga, yang menyebabkan dirinya kurang dihargai karena dianggap tidak bisa mengikuti arus megalomania.

Nurtanio banyak pengalaman, baik sebagai penerbang maupun pejabat yang bertanggung jawab atas pemeliharaan seluruh armada udara AURI selama tahun-tahun sulit. Ia pernah menceritakan suatu paradoks yakni ketika anggaran untuk security dan prosperity masih serasi, industri lokal mampu menghasilkan rubber hose untuk pesawat DC-3 Dakota. Tapi ketika anggaran untuk pertahanan keamanan meningkat sampai 75 persen dari anggaran total, kemampuan lokal tadi lenyap. Padahal di negara yang sudah maju, anggaran pertahanan justru akan menggairahkan industri dalam negeri yang dimanfaatkan untuk menyembuhkan resesi. Begitulah tragedi yang harus dialami bangsa yang belum mandiri.

Nurtanio pernah mengatakan, bahwa pendekatan ke arah pembuatan pesawat terbang bisa juga ditempuh melalui peningkatan maintenance (perawatan dan pemeliharaan) secara bertahap. Dimulai dengan maintenance by repair, dan akhirnya maintenance by manufacturing. Ia mengatakan, melalui kerjasama dengan Polandia dalam pembuatan pesawat Gelatik dia bertujuan meningkatkan SDM ke produksi pesawat.

Nurtanio sendiri lebih memilih realistis, dan memilih berkonsentrasi kepada bagaimana mencapai sasaran yang sedang dihadapinya. Penolakannya akan modifikasi pesawat Lavochkin LA-11 menjadi pesawat jet juga berdasarkan pilihannya itu. Menjelang akhir hayatnya, dia baru memberitahu bahwa dia sedang memodifikasi pesawat STOL (Short Take Off Landing/Tinggal Landas dan Mendarat di landasan pendek) bermotor ganda. Nurtanio juga mengungkapkan keprihatinannya atas terpuruknya AURI paska peristiwa G30S/PKI yang gagal.
Meski mengedepankan rasio, sebagai orang timur, Nurtanio juga percaya dengan hal-hal yang bersifat ghaib, seperti kemunculan hantu dalam perjalanan kereta api yang dihubungkan dengan tragedi atau kecelakaan, atau munculnya bau wangi ketika pada waktu uji terbang dengan Kolentang, gyrocopter rakitan disain Benson di atas sebuah hanggar Lanud Husein Sastranegara, atau bahkan kecelakaan ringan yang dialami di Pameungpeuk, ketika dia menjabat sebagai Direktur Jenderal LAPAN saat kegiatan pembangunan stasiun peluncuran roket giat-giatnya dibangun. Meski minat Nurtanio hanya sebatas gejala-gejala paranormal.

Nurtario gugur pada suatu kecelakaan pesawat terbang pada tanggal 21 Maret 1966, ketika menerbangkan pesawat Aero 45 atau Arev yang sebenarnya buatan Cekoslowakia, yang telah dimodifikasi dengan memberi tangki bahan bakar ekstra. Pesawat ini sebenarnya akan digunakan untuk penerbangan keliling dunia, dan Nurtanio mengalami kecelakaan saat kerusakan mesin, dia berusaha untuk mendarat darurat di lapangan Tegallega Bandung namun gagal karena pesawatnya menabrak toko.

Namun sejarah kemudian mencatat bagaimana setelah gugur Nurtanio tertimpa aib. LIPNUR diubah menjadi IPTN. Nama Nurtanio dihapus. Alasan menghapus nama Nurtanio yang disampaikan secara resmi, sangat sepele. Tuduhannya, adanya surat pribadi dengan kop perusahaan sehingga keluarga Nurtanio difitnah akan memiliki saham IPTN. Isu itu kemudian, yang sangat disayangkan, dibesar-besarkan bahkan didramatisir.

Omar Dani Panglima Termuda, Lalu Terpidana

0 komentar

“… menghukum tertuduh dengan hukuman mati dengan tambahan mencabut haknya atas pemilikan sejumlah tanda jasa, memecat tidak dengan hormat dari pangkat dan segala jabatannya.”

LEBIH dari 40 tahun sudah peristiwa itu berlalu. Tapi kalimat demi kalimat yang meluncur dari mulut hakim Mahkamah Militer Luar Biasa (Mahmilub) itu masih terus terngiang di kepalanya. Hari itu Sabtu, 24 Desember 1966, di gedung Mahmilub (sekarang Bappenas, Jakarta), vonis dijatuhkan. Hakim menyatakan dia terbukti bersalah melakukan pemberontakan dan pemufakatan jahat untuk melakukan makar terhadap pemerintah Indonesia pada 30 September 1965. Kariernya hancur lebur. Dialah Omar Dani, Menteri/Panglima Angkatan Udara 1962-1965. Usianya sekarang 85 tahun. Di sebuah rumah di kawasan Buncit Indah, Jakarta Selatan, Omar melewati hari tua bersama sang istri, Sri Setiani, 72 tahun, janda Komodor Udara Soesanto, yang dinikahi enam tahun lalu. Istri pertama Omar Dani, Sri Wuryanti, telah meninggal pada 1998, tiga tahun setelah Omar bebas dari penjara. Sesekali dia berkumpul dengan empat anak, sembilan cucu, dan seorang cicit. Sekadar bersenda-gurau atau berkaraoke bersama.

Ketika berkunjung ke rumahnya pada Mei lalu, Omar baru dua minggu keluar dari Rumah Sakit Tebet, Jakarta Selatan. Hepatitis C, penyakit yang diidap sejak di penjara, kembali kambuh. Jantung dan lambungnya juga bermasalah. Selama sebulan dia dirawat, sepuluh hari di antaranya di ruang ICU. “Kondisinya waktu itu sangat parah. Bapak sempat koma,” kata Chica, salah seorang putrinya.
Walau telah kembali ke rumah, Omar masih terus ditopang obat-obatan. Usus dan lambungnya cuma bisa menerima susu dan bubur khusus. Dia hanya bisa berbaring di dipan rumah sakit yang diboyong keluarganya ke kamarnya. Sebuah televisi 21 inci diletakkan di atas lemari persis menghadap tempat tidur dan jadi sumber hiburannya, dari berita sampai reality show. Tubuh lelaki yang dulu dikenal sebagai pria berperawakan tinggi tegap dan berwajah setampan pemain film asal Mesir, Omar Sharif, itu terlihat kurus. Dari balik selimut, Omar memperlihatkan kedua tungkainya yang menghitam dan sedikit bengkak karena gangguan pembuluh darah.
Meskipun mulai kesulitan berbicara, Omar masih ingat hampir semua peristiwa yang dialaminya. Tapi peristiwa yang paling dia ingat adalah vonis di depan mahkamah militer tersebut. “Pas sidang Mahmilub, saya sedang berpuasa. Waktu itu Ramadan pada Desember, tepat pada malam Natal. Begitu palu hakim diketukkan, tepat pukul 12.00 malam, lonceng gereja di samping gedung Mahmilub berbunyi. Dipersatukannya peristiwa suci dua agama itu memberi saya keyakinan bahwa Allah bersamaku, aku yakin tidak akan didor,” katanya.
Keyakinannya memang terbukti. Pada 14 Desember 1982, dia mendapat grasi, hukumannya berubah menjadi penjara seumur hidup. Pada 1995, dia dibebaskan. Lewat buku berjudul Tuhan, Pergunakanlah Hati, Pikiran, dan Tanganku, yang diluncurkan pada Februari 2001, dia mengungkapkan kesaksiannya tentang Peristiwa September 1965. Buku yang ditulis oleh Benedicta A. Surodjo dan J.M.V. Soeparno itu sebagian merupakan pleidoinya di depan Mahmilub.
“Sekarang saya, Omar Dani, yang menjadi omongan orang se-Indonesia, sudah selesai menjalani hukuman. Vonisnya hukuman mati, tapi saya tidak jadi didor.” Kata-kata itu berulang kali meluncur dari mulutnya.

Sepertiga kisah hidupnya adalah cerita tentang penderitaan. Tapi semua diceritakan dengan datar, tanpa emosi, malah diimbuhi derai tawa. Tapi sang istri mengatakan pengalaman hampir 30 tahun terasing di penjara menyisakan beban traumatis pada Daned, begitu Omar biasa disapa. “Dia memang tak pernah bilang. Tapi secara tersirat perasaan trauma itu kelihatan, terutama akhir-akhir ini, ketika kesehatannya makin menurun,” katanya.

Omar Dani dilahirkan di Solo, Jawa Tengah, pada 23 Januari 1924 sebagai anak kedua dari tiga bersaudara. Ayahnya, Kanjeng Raden Tumenggung Reksonegoro, seorang bupati di daerah Kasunanan Surakarta Hadiningrat. Kakeknya, Kanjeng Raden Tumenggung Mangoennagoro, menjabat Bupati Surakarta. Dibanding anak-anak lain, Omar tergolong beruntung karena bisa mengecap pendidikan lengkap: dari Hollands Javaansche School-sekolah dasar zaman Hindia Belanda di Klaseman, Klaten-hingga AMS jurusan ilmu pasti di Yogyakarta.
Di bangku AMS itulah Omar mulai “mengenal” Bung Karno. Suatu waktu seseorang menawarkan buku pidato pembelaan Soekarno di depan sidang Landraad, Bandung, pada 1930. “Buku itu ditulis dalam dua bahasa dalam satu halaman, bagian kanan Melayu, kiri Belanda,” kata Omar. Buku berjudul Indonesia Menggugat itu membuat Omar kagum kepada tokoh yang dipujanya sejak kanak-kanak.
Omar tak sempat menamatkan sekolah di AMS karena pada 1942 bala tentara Jepang datang dan menutup sekolah tersebut. Dia bekerja di perkebunan Rosella milik Belanda. Ketika Proklamasi Kemerdekaan dibacakan, Omar bergabung dengan Badan Keamanan Rakyat di Salatiga dan Klaten.

Selanjutnya hidup Omar berpindah-pindah dari satu kota ke kota lain, berganti-ganti pekerjaan. “Dia pernah menjadi penerjemah dan pembaca berita dalam bahasa Inggris di Radio Republik Indonesia Tawangmangu dan Jakarta, informan Markas Besar Tentara, sampai pegawai Javasche Bank (sekarang Bank Indonesia),” ujar Soeparno, salah seorang penulis bukunya. Pekerjaan nonformal juga pernah dilakoninya, seperti juru gambar denah kantor, tukang obat keliling, dan tukang reparasi listrik.

Pada Juli 1950, ketika usianya 26 tahun, sebuah pengumuman dari Angkatan Udara muncul di surat kabar. Isinya ajakan pada pemuda Indonesia mengikuti pendidikan penerbangan. “Saya langsung mendaftar dan ternyata lulus,” kata pria yang fasih bahasa Inggris, Belanda, Prancis, dan Jerman ini. Pada November 1950, bersama 59 pemuda lain, dia terbang ke Amerika Serikat sebagai kadet penerbang di sekolah penerbang sipil Transocean Air Lines Oakland Airport (TALOA) di California.

Inilah awal karier Omar di Angkatan Udara. Kembali ke Tanah Air pada 1952, Omar langsung diberi tugas sebagai kopilot pesawat Dakota, Skuadron 2 di Pangkalan Udara Cililitan. Setahun kemudian dia menjadi kapten pilot. Dia juga dikirim Angkatan Udara mengikuti pendidikan staf komando di Royal Air Force Staff College di Andover, Inggris, selama setahun. Pulang dari sana, Omar diangkat sebagai Asisten Perwira Staf Udara Bidang Operasi, Latihan, dan Pangkalan Udara. Ia terlibat operasi udara menumpas pemberontakan PRRI di Sumatera dan pemberontakan Permesta di Sulawesi Utara.
Puncaknya, pada 19 Januari 1962, ketika usianya belum genap 38 tahun, Omar dilantik menjadi Menteri/Kepala Staf Angkatan Udara, yang selanjutnya berubah menjadi Menteri/Panglima Angkatan Udara (Menpangau). Dia menggantikan Laksamana Udara Surjadi Suryadarma. Pangkatnya naik dari kolonel menjadi laksamana madya udara. Dia menjadi panglima termuda.

Hubungan Soekarno dengan Angkatan Udara makin akrab sejak Omar menjadi Menteri/Panglima Angkatan Udara. “Bung Karno sampai hafal hampir semua personel Angkatan Udara,” ujar Soeparno. Dari sini kekaguman Omar kepada Soekarno pun berubah menjadi loyalitas. “Omar Dani itu pengagum Soekarno tanpa reserve,” kata sejarawan Asvi Warman Adam.
Omar mendukung Nasakom (Nasionalis-Agama-Komunis) yang merupakan ajaran Bung Karno. “Nasakom waktu itu untuk merekatkan seluruh masyarakat yang terdiri dari berbagai golongan nasionalis, agama, dan komunis. Bukan untuk mengkomuniskan masyarakat,” Omar mengungkapkan.

Saleh Basarah, Kepala Staf Angkatan Udara periode 1973-1978, mengatakan salah satu bentuk loyalitas Omar kepada Soekarno terlihat pada saat operasi pembebasan Irian Barat. “Dia meminta anak buahnya bekerja habis-habisan. Yang tak pernah terbang disuruh terbang lagi. Semua pesawat yang dimiliki Angkatan Udara disiapkan,” ucap Saleh, mengenang teman seangkatannya di TALOA itu.
Angkatan Udara Indonesia waktu itu dikenal paling disegani di wilayah Asia belahan selatan. Sejumlah alat tempur canggih seperti pesawat pengebom taktis IL-28, B-25, dan B-26, serta pesawat pengebom strategis TU 16 KS dimiliki angkatan ini. Kejayaan Angkatan Udara memudar setelah peristiwa G30S.

Omar tak percaya, rapat malam itu di kediaman resminya di Wisma Angkasa, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, bakal berbuah bencana. Syahdan, 30 September 1965, sekitar pukul 20.00, Omar mengundang deputinya berkumpul. Agustinus Andoko, Deputi Logistik, mengatakan undangan itu terbilang mendadak. Selain dia, hadir Deputi Operasi Komodor Udara Dewanto, Panglima Komando Operasi Angkatan Udara Leo Wattimena, serta Laksamana Muda Udara Makki Perdanakusuma.

Andoko mengatakan, mereka diminta datang untuk mendengarkan informasi dari Asisten Direktur Intelijen Angkatan Udara Heru Atmodjo. Heru melaporkan bahwa perwira-perwira Angkatan Darat malam itu bakal menjemput sejumlah jenderal Angkatan Darat yang diduga anggota Dewan Jenderal untuk dihadapkan kepada Bung Karno. “Suasana pertemuan tegang, karena berita itu mengandung keanehan, kok malam-malam mau dijemput,” kata Andoko. Apalagi saat itu belum jelas kapan penjemputan itu akan dilakukan.

Heru mengatakan informasi itu dia peroleh dari Mayor Udara Sujono siang harinya. Komandan Resimen Pasukan Pertahanan Pangkalan Angkatan Udara yang bermarkas di Kramat Jati, Jakarta Timur, itu menyampaikan keterangan tentang Dewan Jenderal hendak melakukan kudeta. “Sujono menyatakan gerakan para perwira Angkatan Darat itu merupakan masalah internal Angkatan Darat,” kata Heru kepada Tempo. Sujono juga mengatakan dia bakal bergabung dengan gerakan itu dengan atau tanpa restu Menteri/Panglima Angkatan Udara.
Pertemuan berakhir dengan satu kesimpulan: gerakan itu masalah internal Angkatan Darat. Angkatan Udara tak akan ikut campur. “Tapi kami masih meragukan informasi itu,” ujar Andoko. Untuk mencegah hal yang tak diinginkan, Leo Wattimena menyarankan Omar beristirahat di Markas Komando Operasi Angkatan Udara di Halim Perdanakusuma. Lewat tengah malam, Omar akhirnya berangkat ke Halim ditemani ajudannya.

Ternyata informasi “tak masuk akal” itu benar. Melalui siaran berita RRI pukul 07.00, Omar mendengar peristiwa tersebut. Omar segera menyusun konsep pernyataan perintah harian, sesuai dengan saran Heru pada 30 September malam. AURI perlu menyatakan sikap yang berpihak kepada Soekarno.
Isi perintah harian itu antara lain berbunyi, “Pada 30 September 1965 telah diadakan gerakan oleh Gerakan 30 September untuk mengamankan dan menyelamatkan revolusi dan Pemimpin Besar Revolusi terhadap subversi CIA. Dengan demikian telah diadakan pembersihan dalam tubuh Angkatan Darat daripada anasir-anasir yang didalangi oleh subversi asing yang membahayakan revolusi Indonesia.”
Omar merasa perintah hariannya tergesa-gesa. Beberapa saat kemudian dia menerima telepon dari Soeparto, sopir Soekarno, bahwa Presiden akan datang ke Pangkalan Udara Halim Perdanakusuma. Dia ingin mengkonsultasikan surat perintah harian itu dengan Bung Karno. Sayang, surat itu sudah telanjur disiarkan RRI pukul 10.00 WIB.

“Perintah harian itu tak menguntungkan AURI karena dianggap pro-gerakan. Akibatnya, AURI dan keluarganya dicemooh,” ucap Andoko. Pada 2 Oktober, Menteri/Panglima Angkatan Udara sebenarnya membuat pernyataan lanjutan yang menegaskan AURI tak turut campur dalam Gerakan 30 September. “Tapi pernyataan itu baru disiarkan RRI yang sudah dikuasai Kostrad pada pukul 01.30. Siapa yang dengar?” kata Soeparno.
Angkatan Udara makin terjepit ketika Soeharto menyampaikan pidato radio yang memojokkan mereka. Kedatangan Soekarno dan Aidit ke Halim Perdanakusuma dijadikan bukti. “Halim dianggap sebagai sarang komunis,” kata Asvi. Padahal kehadiran Soekarno ke Halim sesuai dengan standar operasi Resimen Cakrabirawa, pasukan pengawal presiden. Salah satu cara menyelamatkan kepala negara ketika situasi keamanan genting adalah membawa Presiden ke Halim karena di sana selalu disiagakan pesawat kepresidenan C-140 Jetstar. “Jadi bukan karena terlibat G30S,” kata Asvi. Sedangkan ihwal kehadiran Aidit, Omar mengaku sama sekali tak tahu, karena mereka tak pernah bertemu.

Soekarno di Halim menginap di rumah milik Komodor Udara Soesanto, sebelum pindah ke Istana Bogor. “Rumah kami dipakai karena satu-satunya yang memiliki kamar berpendingin udara,” ujar Sri Setiani, janda Komodor Soesanto. “Kami tak tahu apa yang sedang terjadi.” Tak disangka, akibat kedatangan Soekarno di Halim itu, keluarga AURI menjadi bulan-bulanan. “Istri-istri anggota AURI yang berbelanja ke pasar di luar Halim dicemooh, bahkan pasukan karbol, yang berdiri di pinggir jalan saat iring-iringan jenazah para jenderal itu lewat, diludahi,” Asvi mengungkapkan.
Apalagi berita yang berkembang menyebutkan, Desa Lubang Buaya, tempat “pembantaian” para jenderal itu, berada di wilayah AURI. Padahal Desa Lubang Buaya itu berada di daerah Pondok Gede, bekas perkebunan karet yang jaraknya jauh dari Halim. Di Halim sendiri memang ada tempat yang disebut Lubang Buaya. “Tapi itu untuk dropping zone-pendaratan terjun payung yang sekarang jadi lapangan golf Halim,” kata Andoko.

Posisi Omar Dani pun dari hari ke hari kian terjepit. Ia mulai disebut terlibat pemberontakan. Meski Soekarno yakin dia tak terlibat, Omar takut posisi Bung Karno bisa terganjal bila tak segera mengambil tindakan tegas terhadapnya. “Karena sebetulnya yang jadi sasaran itu Bung Karno,” kata Omar. Ia pun memilih mengajukan permohonan mengundurkan diri. Soekarno menolak. Ia malah diberi tugas melawat ke sejumlah negara Asia dan Eropa.
Selama enam bulan, Omar dan keluarga tinggal di luar negeri. Tatkala kondisi Tanah Air makin genting, dia memutuskan pulang. “Segala tindakan dan perbuatan anggota-anggota Angkatan Udara, tamtama, bintara, atau perwira, yang langsung atau tak langsung tersangkut dalam peristiwa G30S, adalah tanggung jawab saya selaku Menpangau,” ucap Omar di depan sidang Mahmilub. Pernyataan inilah yang kemudian memberatkan Omar.

Ignatius Slamet Rijadi

0 komentar
Sabtu (4 November 1950) sore Letkol Ignatius Slamet Rijadi memerintahkan pasukan Groep II Komando Pasukan Maluku Selatan atau KP Malsel mendekati Benteng Victoria, Ambon. Menurut laporan intelijen, di benteng bekas VOC itu masih bertahan sisa-sisa pasukan Republik Maluku Selatan (RMS). Pada sisi lain, Pak Met, begitu panggilan akrabnya dari semua anak buahnya, juga menerima informasi, benteng itu pada Jumat siang sudah bisa direbut oleh pasukan Mayor Lukas Koestarjo dari Divisi Siliwangi.

Slamet Rijadi ada di dalam panser paling depan, dikemudikan Kapten Klees, Komandan Eskader Kavaleri. Di belakangnya, dua panser lain mengikuti. Tiba-tiba tembakan gencar berdatangan dari arah benteng, langsung menghujani pertahanan pasukan TNI. Pak Met kaget. Sementara itu, Klees langsung memerintahkan anak buahnya segera membalas tembakan. Tiba-tiba Pak Met berteriak, “Stop het veuren. Hentikan tembakan.”“Mengapa Overste?” tanya Kapten Klees heran.
Pak Met menukas, “Ini semua salah paham. Lihat, mereka semua mengibarkan Merah Putih dari dalam benteng. Pasti mereka TNI, anak-anak Siliwangi. Saya akan keluar memastikan….”
Klees berusaha mempertahankan pendapatnya, “Overste, saya bekas KNIL. Saya tahu cara bertempur mereka. Bisa saya pastikan, mereka adalah bekas KNIL yang bergabung ke RMS. Jangan hiraukan mereka, meski mereka mengibarkan Merah Putih….”

Jawaban Pak Met amat mengejutkan, “Saya Komandan KP Malsel. Lihat tembakan mereka sudah berhenti. Saya akan keluar untuk lebih memastikan, buka canopy (kubah) panser.”
“Siap Overste,” jawab Klees sambil menarik tungkai pembuka kubah panser. Pak Met keluar panser, tanpa memakai topi baja. Hanya membawa teropong sambil berkalungkan owen gun, senapan otomatis kesayangannya.

Apa yang dikawatirkan Klees menjadi kenyataan. Slamet Rijadi tidak pernah tahu bahwa pada Sabtu dini hari pasukan komando RMS telah menguasai kembali Benteng Victoria sekaligus mengusir keluar anak buah Lukas Koestarjo. Maka, apa yang disangka Slamet Rijadi bahwa benteng itu masih dikuasai TNI, keliru. Seorang sniper (penembak jitu) RMS dari atas Benteng Victoria Sabtu sore itu bagai menemukan durian runtuh. Dengan jelas, dia melihat Slamet Rijadi keluar dari dalam panser. Sebuah tembakan langsung terdengar, pelurunya meluncur tepat mengenai bagian perut Pak Met.

Melihat tubuh komandannya jatuh, Klees langsung memerintahkan kedua panser lain menghujani benteng dengan tembakan gencar. Tindakan itu agar bisa memberi kesempatan kepada dirinya membawa Pak Met ke garis belakang di Laha. Tubuh Slamet Rijadi langsung diangkut ke KM Waibalong yang membuang sauh di depan Pelabuhan Laha. Beberapa jam kemudian, Mayor Dr Abdullah, perwira kesehatan, memberi laporan kepada Kolonel Alex Kawilarang, Panglima KP Malsel, “Letnan Kolonel Ignatius Slamet Rijadi gugur pada sekitar pukul 11.30 Sabtu malam….”

Ganti nama

Pemerintah mengangkat Brigadir Jenderal (Anumerta) Slamet Rijadi sebagai Pahlawan Nasional. Dalam upacara di Istana Negara, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono juga menyampaikan anugerah Bintang Mahaputera Utama. Lalu, pada hari Senin tanggal 12 Nopember 2007, KSAD Jenderal Djoko Santoso bertindak sebagai Inspektur Upacara pada peresmian patung Ignatius Slamet Rijadi di Jalan Slamet Rijadi, jalan raya yang membelah kota Solo, Jawa Tengah.

Slamet Rijadi dilahirkan di Kampung Danukusuman Solo pada Rebo Pon, 28 Mei 1926 dengan nama Soekamto. Karena semasa kecil sering sakit, namanya diganti menjadi Slamet. “…ketika di SMP Negeri II Solo banyak anak bernama Slamet. Maka oleh gurunya diberi tambahan nama, maka jadilah sampai sekarang Slamet Rijadi,” kata Kolonel (Purn) Soejoto, teman main Pak Met sejak kecil, yang kemudian menjadi anak buah saat bergerilya di daerah Solo, menumpas gerombolan DI di Jawa Barat, dan dalam operasi menumpas RMS mulai dari Pulau Buru sampai ke Pulau Ambon, Maluku.

Dengan demikian, Pak Met gugur saat usianya belum genap 24 tahun. Namun, meski hidupnya amat singkat, jejak serta teladan yang ditinggalkan amat mengesankan. Dia tidak hanya seorang jago tempur, yang dilakukan secara otodidak dengan belajar dari buku dan majalah militer, oleh karena dia terjun menjadi anggota militer semata-mata untuk memenuhi panggilan revolusi sehingga bukan lewat jalur formal.

Namun, Pak Met, amat berbeda dengan para pemimpin perang lain, meninggalkan naskah tertulis yang masih bisa dipakai sampai hari ini dalam judul Pedoman Gerilya I dan II. Bahkan, berbeda dengan AH Nasution atau TB Simatupang, yang menulis bukunya sesudah perang selesai. “Pak Met menulis di tengah pertempuran, berdasarkan pengalaman yang ditemukan selama perang. Salah satu yang legendaris adalah petunjuknya, de beste verdediging ligt juist in de anvall. Pertahanan terbaik teletak pada penyerangan, ” kata Kolonel (Purn) Aloysius Soegianto, tokoh intelijen sekaligus bekas ajudan Pak Met.

Pasukan komando

Seusai operasi penumpasan RMS, saat Alex Kawilarang sudah diangkat sebagai Panglima Siliwangi, dia teringat gagasan Slamet Rijadi untuk membentuk pasukan komando, “…yang terampil dalam bertempur dalam semua medan sekaligus mahir menggunakan aneka macam senjata.”

Kawilarang memerintakan Soegianto mencari Visser, bekas kapten pasukan komando Belanda, yang karena bercerai minta pensiun dini dan tidak mau pulang ke Negeri Belanda.
Soegianto mengungkapkan, “Visser saya temukan sudah menjadi petani kembang di Pacet dan berganti nama jadi Mohammad Idjon Djanbi. Dia lalu diaktifkan sebagai mayor dalam dinas TNI oleh Panglima Kawilarang, diminta melatih dan membentuk pasukan komando.” Jadilah kemudian pasukan Baret Merah KKAD (Kesatuan Komando Angkatan Darat) yang nantinya tumbuh menjadi RPKAD, Sandi Yudha, dan kini dikenal sebagai Kopassus (Komando Pasukan Khusus) TNI Angkatan Darat. Karena itu, Pak Met juga dikenal sebagai tokoh penggagas terbentuknya pasukan komando di Indonesia.

Pak Met gugur dalam usia muda. Namun, dia telah meninggalkan jejak panjang dan sangat bermakna. Khususnya sebuah teladan dalam perjuangan menegakkan Republik Proklamasi serta menjaga kedaulatan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Pada suatu peristiwa saat akan diadakannya peralihan kekuasaan di Solo oleh Jepang yang dipimpin oleh Tyokan Watanabe yang merencanakan untuk mengembalikan kekuasaan sipil kepada kedua kerajaan yang berkedudukan di Surakarta, yaitu Kasunanan dan Praja Mangkunagaran, akan tetapi rakyat tidak puas. Para pemuda telah bertekad untuk mengadakan perebutan senjata dari tangan Jepang, maka rakyat mengutus Muljadi Djojomartono dan dikawal oleh pemuda Suadi untuk melakukan perundingan di markas Ken Pei Tai (polisi militer Jepang) yang dijaga ketat. Tetapi sebelum utusan tersebut tiba di markas, seorang pemuda sudah berhasil menerobos kedalam markas dengan meloncati tembok dan membongkar atap markas Ken Pei Tai, tercenganglah pihak Jepang, pemuda itu bernama Slamet Rijadi.

Karir militer

Pada tahun 1940, ia menyelesaikan pendidikan di HIS, ke Mulo Afd. B dan kemudian dilanjutkan ke Pendidikan Sekolah Pelayaran Tinggi, dan memperoleh ijazah navigasi laut dengan peringkat pertama dan mengikuti kursus tambahan dengan menjadi navigator pada kapal kayu yang berlayar antar pulau Nusantara. Setelah pasukan Jepang, mendarat di Indonesia melalui Merak, Indramayu dan dekat Rembang pada tanggal 1 Maret 1942 dengan kekuatan 100.000 orang, dan walaupun memperoleh perlawanan dari Hindia Belanda, tetapi dalam waktu singkat yaitu pada tanggal 5 dan 7 Maret 1942 , kota Solo dan Yogjakarta jatuh ketangan Jepang.
Slamet Rijadi merasa terpanggil membela ibu pertiwi, dan menjelang proklamasi 1945, ia mengobarkan pemberontakan dan melarikan sebuah kapal kayu milik Jepang, usaha Ken Pei Tai untuk menangkapnya tidak pernah berhasil, bahkan setelah Jepang bertekuk lutut. Slamet Rijadi berhasil menggalang para pemuda, menghimpun kekuatan pejuang dari pemuda-pemuda terlatih eks Peta/Heiho/Kaigun dan merekrutnya dalam kekuatan setingkat Batalyon, yang dipersiapkan untuk memelopori perebutan kekuasaan politik dan militer di kota Solo dari tangan Jepang (Slamet Rijadi diangkat sebagai Komandan Batalyon Resimen I Divisi X).
Dalam perkembangannya terjadi pergantian pimpinan militer, Divisi X dirubah menjadi Divisi IV, dengan Panglimanya Mayor Jenderal Soetarto dan divisi ini dikenal dengan nama Divisi Panembahan Senopati, yang membawahi 5 Brigade tempur . Diantaranya Brigade V dibawah pimpinan Suadi dan mempunyai Batalyon XIV dibawah komando Mayor Slamet Rijadi, yang merupakan kesatuan militer yang dibanggakan. Pasukannya terkenal dengan sebutan anak buah “Pak Met”. Selama agresi Belanda II, pasukannya sangat aktif melakukan serangan gerilya terhadap kedudukan militer Belanda, pertempuran demi pertempuran membuat sulit pasukan Belanda dalam menghadapi taktik gerilya yang dijalankan Slamet Rijadi. Namanya mulai disebut-sebut karena hampir di-setiap peristiwa perlawanan di kota Solo selalu berada dalam komandonya.
Sewaktu pecah pemberontakan PKI-Madiun, batalyon Slamet Rijadi sedang berada diluar kota Solo, yang kemudian diperintahkan secara langsung oleh Gubernur Militer II – Kolonel Gatot Subroto untuk melakukan penumpasan ke arah Utara, berdampingan dengan pasukan lainnya, operasi ini berjalan dengan gemilang.
Dalam palagan perang kemerdekaan II, Slamet Rijadi dinaikkan pangkatnya menjadi Letnan Kolonel, dengan jabatan baru Komandan “Wehrkreise I” (Penembahan Senopati) yang meliputi daerah gerilya Karesidenan Surakarta, dan dibawah komando Gubernur Militer II pada Divisi II , Kolonel Gatot Subroto. Dalam perang kemerdekaan II inilah Let.Kol. Slamet Rijadi, membuktikan kecakapannya sebagai prajurit yang tangguh dan sanggup mengimbangi kepiawaian komandan Belanda lulusan Sekolah Tinggi Militer di Breda Nederland. Siang dan malam anak buah Overste (setingkat Letnan Kolonel). Van Ohl digempur habis-habisan, dengan penghadangan, penyergapan malam, sabotase . Puncaknya ketika Let.Kol Slamet Rijadi mengambil prakarsa mengadakan “serangan umum kota Solo” yang dimulai tanggal 7 Agustus 1949, selama empat hari empat malam. Serangan itu membuktikan kepada Belanda, bahwa gerilya bukan saja mampu melakukan penyergapan atau sabotase, tetapi juga mampu melakukan serangan secara frontal ketengah kota Solo yang dipertahankan dengan pasukan kavelerie, persenjataan berat-artileri, pasukan infantri dan komando yang tangguh. Dalam pertempuran selama empat hari tersebut, 109 rumah penduduk porak poranda, 205 penduduk meninggal karena aksi teror Belanda, 7 serdadu Belanda tertembak dan 3 orang tertawan sedangkan dipihak TNI 6 orang gugur.

Setelah terjadi gencatan senjata , dan pada waktu penyerahan kota Solo ke pangkuan Republik Indonesia, dari pihak Belanda diwakili oleh “Overste Van Ohl” sedangkan dari pihak R.I oleh Let.Kol. Slamet Rijadi. Ov.Van Ohl demikian terharu, bahwa Let.Kol. Slamet Rijadi yang selama ini dicari-carinya ternyata masih sangat muda . ” Oooh …Overste tidak patut menjadi musuh-ku…..” ,Overste pantas menjadi anakku, tetapi kepandaiannya seperti ayahku.
Pada akhir tahun 1949, sebagai penganut agama Katholik, Slamet Rijadi di baptis dengan nama Ignatius di Gereja Room Katholik – Solo. Pada tanggal 10 Juli 1950, Letnan Kolonel Ignatius Slamet Rijadi, berangkat dengan kapal Waikalo dan memimpin batalyon 352 untuk bergabung dengan pimpinan umum operasi – Panglima TT VII – Kolonel Kawilarang, dalam penugasan menumpas pemberontakan Kapten Andi Aziz di Makasar dan pemberontakan Republik Maluku Selatan (RMS) yang dipelopori oleh Dr. Soumokil dan kawan-kawan.

Sulitnya Meraih Baret Intai Amfibi, Pasukan Elite Marinir...

1 komentar
Sulitnya Meraih Baret Intai Amfibi, Pasukan Elite Marinir..Dengan Kaki dan Tangan Terikat, Dibuang ke Laut 

“Di Karang Tekok, Situbondo, Jatim, saat ini sedang berlangsung pendidikan Sekolah Khusus Marinir yang diikuti 54 siswa. Mereka berjuang untuk meraih baret Pasukan Intai Amfibi (Taifib). Bagaimana beratnya latihan itu?


 



SUUD RUSLI, mantan anggota Marinir yang kabur dari sel Lantamal II Jakarta merupakan salah seorang penyandang baret Taifib. Karena itu, untuk meringkus pembunuh bos PT Asaba tersebut, jajaran pimpinan TNI Angkatan Laut mengerahkan hampir satu peleton tim gabungan.
TNI-AL sadar bahwa Suud adalah salah seorang prajurit Marinir yang mempunyai kemampuan luar biasa. Jago tembak. Sebagai anggota Taifib, dia mempunyai pengalaman dalam berbagai operasi khusus. Untuk melukiskan kemampuan Taifib itu, ada yang menganggap kemampuan satu pasukan Taifib setara dengan sepuluh pasukan biasa.
Para pemburu Suud tak mau gegabah, meski sasarannya sudah diketahui pasti. Dikhawatirkan Suud yang dikenal sebagai penembak jitu tersebut bereaksi. Tapi, untungnya, ketelatenan tim pemburu yang sebagian juga anggota Taifib tersebut berhasil meringkus Suud di Jalan Sumbersari, Desa Sumbersari, Kota Malang. ”Menghadapi Suud bukanlah hal yang mudah karena dia mantan pasukan khsusus yang mempunyai kemampuan lebih daripada prajurit Marinir biasa,” jelas salah seorang perwira TNI-AL.

Itulah gambaran bahwa lulusan pendidikan Taifib disegani sekaligus ditakuti. Mereka adalah pasukan inti di Kesatuan Marinir yang mempunyai kemampuan di atas rata-rata. Kemampuan tersebut diraih setelah ditempa melalui pendidikan yang sangat ketat serta melewati ujian yang sangat berat selama sepuluh bulan.
Tidak heran, di antara ratusan prajurit yang mengikuti seleksi pendidikan Taifib, hanya 54 orang yang diterima pada tahun ini. Mereka itulah yang sedang digodok di kawah candradimuka di Situbondo itu. Tahun-tahun sebelumnya, sering hanya belasan prajurit yang memenuhi syarat. Mereka yang tak lulus dikembalikan ke kesatuannya semula di Marinir.
Tidak semua yang mengikuti pendidikan tersebut lolos. ”Saya mendapat laporan, dua di antara mereka (di antara 54 yang sedang pendidikan, Red) dimungkinkan dikembalikan ke kesatuannya karena tidak mampu mengikuti pendidikan,” jelas Letkol Laut (KH) Tony Saiful, perwira penerangan Kodikal.
Selain fisik prima, calon Taifib juga dituntut memiliki IQ tinggi. Sebab, pasukan elite yang sering digunakan untuk penyusupan di daerah operasi itu harus mampu menghadapi berbagai masalah, baik secara individu maupun kelompok.
Selama pendidikan, teori di kelas hanya 20 persen. Selebihnya di lapangan, seperti hutan, laut, bahkan udara. Mereka harus mempunyai kemampuan terbaik di darat, laut, dan udara. Mereka dituntut mampu melaksanakan tugas rahasia secara sempurna di ketiga medan tersebut.
Untuk mencapai semua itu, diperlukan pendidikan yang sangat keras dan ketat. Mereka harus mampu menyusup dengan terjun payung, bergerak lincah di laut dengan daya tahan tinggi, serta survive di darat.


Mereka ditempa di tengah ombak ganas di Laut Banyuwangi, yang biasanya menghanyutkan perahu nelayan. Dengan tangan dan kaki diikat, para prajurit tersebut dibuang ke laut ganas itu. Mereka harus mampu bertahan sekaligus menyelamatkan diri. “Latihan mereka cukup berat. Kaki dan tangan diikat pun bisa hidup.

Kenapa sampai demikian? Bila sewaktu-waktu prajurit trimedia (menguasai medan darat, laut, dan udara) itu dibuang ke laut dalam keadaan tangan dan kaki terikat oleh musuh, mereka akan mampu menyelamatkan diri.
Setelah melawan ombak besar di laut, mereka juga dituntut bertahan hidup di hutan tanpa perbekalan sedikit pun. Untuk menguji daya tahannya itu, para prajurit terpilih tersebut dilepas di tengah hutan dengan hanya bermodalkan garam. Air minum pun tidak diperkenankan dibawa. Selebihnya, cari sendiri di hutan. Latihan itu dilakukan di Alas Purwo. Di sana, mereka dilepas untuk melatih ketahanan fisik dan kemampuan perorangan.
Di tengah hutan, mereka harus bertahan berhari-hari. Mereka tak jarang hanya makan binatang buas, seperti ular. Bila mampu menangkap monyet, hewan itu pulalah yang disantap. Selama tiga hari tiga malam, mereka tidur di tengah hutan rimba tersebut. Kadang-kadang,  juga lebih,
“Saya pernah minum air untuk tambal ban di pinggir jalan Alas Purwo,” cerita mantan Direktur Sekolah Khusus (Dirsus) Marinir Kol (Mar) Buyung Lalana. “Meski air itu siang harinya digunakan untuk mengetes ban mobil dan sepeda motor yang pecah, rasanya nikmat sekali karena begitu haus,” kenang Buyung lagi.
Itu semua belum cukup. Soal pukul-memukul oleh instruktur untuk melatih mental bukanlah hal aneh di kalangan mereka. Saya pernah menyaksikan betapa kerasnya pelonco dari kakak angkatan untuk prajurit yang mengawali pendidikan. Mereka benar-benar harus siap mental dan fisik. Begitu kerasnya, tidaklah heran kalau di awal pendidikan itu, ada yang mengundurkan diri.
Untuk latihan udara, mereka bukan lagi dilatih terjun tempur seperti prajurit biasa. Kalau terjun tempur, begitu keluar dari pintu pesawat, payung sudah terbuka. Tapi, Taifib dilatih terjun bebas.
Yang menarik, terjun bebas itu tidak saja dilakukan siang, tapi juga tengah malam. Dengan begitu, bila sewaktu-waktu masuk ke sasaran musuh, mereka tidak harus lewat darat atau laut yang mudah dideteksi lawan. Para Taifib juga bisa diturunkan dari pesawat dengan ketinggian yang sulit terdeteksi musuh.
Saya juga pernah menyaksikan latihan terjun malam di pengeboran gas Pulau Pagerungan, sebuah pulau kecil masuk wilayah Sumenep dekat Selat Lombok. Mereka diterjunkan di keheningan malam. Prajurit tersebut bisa mendarat dengan tepat di celah-celah pohon mangga dan kelapa pinggir pantai.
Untuk menghindari pendeteksian musuh, mereka harus piawai menyelam. Dengan menggunakan kompas, sambil menghitung derajat daerah sasaran, para Taifib harus bisa muncul di titik yang tepat.
Itu baru tahap latihan. Bila pelantikan atau dikenal dengan pembaretan, mereka harus jalan kaki siang malam. Itu sering dilakukan Banyuwangi-Surabaya. Mereka dilepas di Banyuwangi dan diperintahkan kumpul di Surabaya dalam waktu yang ditentukan. Bila naik kendaraan dan ketahuan instruktur, hukuman berat bakal dirasakan. Baretnya pun bakal tak hinggap di kepala. Wooww

Kisah Kopassus Membebaskan Sandera di Papua

0 komentar
“Tulisan ini adalah rangkuman dari tulisan asli pelaku tanpa melebih-lebihkan bahkan menyimpangi kejadian yang sebenarnya. nama-nama pelaku, nama satgas, serta daerah kejadian saya samarkan dengan tujuan agar kerahasiaan pelaku-pelaku didalamnya dapat terjaga.”


“Kisah ini bukanlah kisah operasi pembebasan sandera di mapenduma bahkan tidak ada hubunganya dengan tragedi penyanderaan itu namun kisah ini terjadi beberapa tahun silam sebelum terjadinya tragedi penyanderaan di mapenduma”

Irian Jaya1987, saat it pasukan komando diterjunkan di bumi cendrawasih dengan tugas membendung aksi separatisme yang kian marak terjadi, pasukan itu diberi nama satgas M…., satgas itu dipecah menjadi 5 regu kecil yang di pimpin oleh perwira berpangkat letnan dan ada juga bintara berpangkat sersan. dan satu regu inti yang dipimpin oleh seorang perwira pertama berpangkat kapten dimana regu-regu yang tergabung dalam satgas M…. itu ditempatkan di beberapa daerah rawan di Irian Jaya, seluruh anggota satgas ini pada awalnya ditempatkan secara terbuka dan membaur dengan masyarakat walhasil satgas ini cukup diterima oleh para penduduk didaerah dimana mereka ditempatkan, hal tersebut terbukti dengan disambutnya mereka semenjak kedatangan pertama kalinya kedaerah tersebut, sebenarnya ada salah satu regu yang merasa dongkol karena dikelabui oleh sikap ramah penduduk yang awal mulanya menawarkan mereka untuk bermalam disalah satu rumah yang menurut seorang kepala desa dan juga warga sekitar adalah tempat yang aman, namun karena regu itu melihat kepolosan dan niat baik warga yang ramah terhadap mereka sehingga sang Danru yang berpangkat sersan kepala (Serka) itu menerima ajakan tersebut dengan senang hati, kemudian Danru memerintahkan seluruh anggotanya untuk menaruh ransel dan beristirahat dirumah yang telah disediakan itu, Danru pun menyusul anggotanya yang sudah terlebih dulu masuk kerumah karena sebelumnya ia bercakap-cakap dulu dengan kepala desa di halaman rumah itu, lalu sekitar pukul 20:00 kepala desa dan beberapa warganya membawa makanan yang khusus dibuatkan untuk menjamu regu itu, lalu merekapun (regu) melahap dan menikmati makanan itu karena mereka (regu) menyadari sejak kedatangannya siang tadi mereka belum makan sedikitpun lalu setelah mereka makan, mereka pun sempat berbincang-bincang untuk mengakrabkan dengan warga namun tak terasa waktu sudah larut malam bahkan bisa dikatakan sudah tengah malam lalu warga pun pulang, setelah itu Danru membagi 2 giliran untuk berjaga diteras. dimana 3 orang berjaga dan 3 lainya serta Danru beristirahat tidur.

*KONTAK TEMBAK PERTAMA*
kurang lebih baru sekitar 45 menit 3 personil yang mendapat kesempatan berjaga giliran pertama, rumah itu dihujani peluru oleh sekelompok orang tak dikenal dan ternyata setelah dilakukan pengejaran dan berhasil menangkap, sekelompok orang yang memuntahkan peluru kearah rumah itu adalah OPM yang mendapat laporan dari kepala desa dan warga tadi, ternyata kepala daerah dan beberapa warga tersebut memang diancam OPM untuk melapor apabila ada pasukan TNI dikampungnya. memasuki minggu kedua satgas M…. bertugas, hampir seluruh regu telah mengalami kontak tembak, bahkan ada salah satu regu yang telah mengalami sebanyak 3 kali kontak tembak dengan kelompok separatis.

*MENJADI PENGHUNI HUTAN*
Menginjak bulan kedua pada masa penugasan 3 dari 6 regu diperintahkan untuk mengikis musuh di hutan-hutan, mereka setidaknya akan menjadi penghuni hutan selama 2 bulan, karena setiap 2 bulan sekali mereka akan berganti posisi dengan 3 regu lainya di kota, mereka yang bertugas menjadi penghuni hutan bertugas melakukan pengejaran bahkan tidak jarang juga melakukan penyerbuan sehingga nama satgas ini dikalangan musuh cukup ditakuti, karena satgas ini dalam berbagai kontak tembak sering sekali berhasil menembak mati musuhnya dan juga cukup membuat musuh kewalahan dan juga tidak jarang pula satgas itu melakukan penyerangan dan penyergapan yang tidak terduga bahkan sulit ditebak terhadap basis-basis musuh di pedalaman hutan di Irian Jaya. pada saat rotasi pertama yaitu tepatnya pada saat menginjak bulan ke 4 pasukan yang bertugas dihutan mendapat tugas yang cukup berat yaitu karena pada saat 3 hari setelah mereka melakukan rotasi dengan regu yang bertugas sebelumnya terjadi penculikan terhadap 2 orang warga sipil asal pulau jawa yang berprofesi sebagai jurnalis, kedua orang itu diculik dan ditawan oleh opm ketika dia mewawancarai warga salah satu suku pedalaman didaerah W….. tujuan mereka datang ke irian adalah untuk menulis tentang bagaimana kehidupan suku pedalaman di irian. berita tentang penculikan tersebut didapat dari beberapa orang warga yang menjadi saksi dan juga diyakinkan oleh berita intelijen dilapangan
*MINUM AIR KUBANGAN BABI*
Kabar penculikan tersebut tersiar hingga Jakarta sehingga petinggi militer pun memerintahkan pasukan TNI untuk membebaskan drama penculikan tersebut, dan ternyata regu 4 dan 5 dari satgas M lah yang diberi amanat untuk membebaskan sandera tersebut dikarenakan posisi kedua regu itulah yang paling dekat dengan sas, setelah mendapat PO dari DanSatgas mereka pun berangkat menjalankan operasi yang telah diperintahkan dimana regu 4 diperintahkan sebagai penyerbu dan penjemput sandera sedangkan regu 5 sebagai penutup pelarian. menurut berita intelijen penyandera menyekap sandera tersebut disebuah hutan di pegunungan didaerah W….., regu 4 berangkat terlebih dahulu dengan selang waktu kurang lebih 1/2 jam dan disusul regu 5, perjalanan menuju sas krg lebih memakan waktu 2 hari dengan berjalan kaki, regu tersebut hanya membawa logistik makanan seminim mungkin yang sepertinya memang tidak cukup untuk 2 hari, hal tersebut dikarenakan bahwa posisi sas yang tidak terlalu jauh serta agar kerahasiaan operasi tetap terjaga dimana mereka mengantisipasi akan adanya beberapa pos tinjau opm, mereka membawa senjata serta peluru sedikit lebih banyak sebagai cadangan dan tak lupa juga membawa air yang mereka isikan pada peples.
Setelah melakukan pengendapan selama kurang lebih 18 jam kedua regu itu memutuskan untuk beristirahat makan dan tidur sejenak, mereka beristirahat dibawah rimbunya dedaunan bahkan ada pula yang tertidur di atas dahan pepohonan setelah kurang lebih 3 jam mereka beristirahat mereka melanjutkan kembali pengendapan namun sekarang regu 5 mengendap bersama-sama dengan regu 4, setelah lebih kurang 8 jam mereka mengendap ternyata mereka menyadari bahwa seluruh air dalam peples personil sudah habis sedari mereka terakhir beristirahat beberapa jam lalu dan dehidrasi pun tidak dapat dihindari namun mereka tetap melanjutkan pengendapan, tak disangka setelah 1 jam mereka berjalan betapa senangnya mereka karena menemukan sebuah genangan air atau bisa juga disebut kolam kecil meskipun air tersebut keruh bahkan berwarna cokelat ternyata setelah diamati air itu adalah air bekas kubangan babi, namun tanpa berpikir panjang seluruh anggota pun meminumnya bahkan ada sebagian yang menggunakan helmnya sebagai gelas bahkan ada pula yang mengisi peplesnya dengan air tersebut, mereka pun melanjutkan kembali perjalananya, setelah mereka berjalan kurang lebih 3 jam mereka mendengar suara gemuruh seperti suara air di sungai lalu mereka mendekat ke arah suara tersebut berasal dan ternyata dugaan mereka benar, suara itu memang suara gemuruh air sungai dengan air yang jernih, melihat sungai itu beberapa anggotapun mengumpat karena betapa dongkolnya mereka karena jika saja mereka bersabar untuk tidak meminum air kubangan babi tadi, tanpa ada yang mengkomando semua personil pun meminum air sungai yang jernih tersebut untuk memuaskan dan melampiaskan rasa kesal mereka bahkan air dalam peples yang mereka isi dengan air kubangan babi tadi pun mereka buang dan mereka ganti dengan air yang jernih itu.
*PEMBEBASAN SANDERA*
pada saat mereka akan bergegas untuk melanjutkan perjalanan bahkan ada beberapa prajurit yang masih meminum air terdengar suara desingan peluru yang ternyata mengarah kepada mereka dan seorang letda danru 4 melihat dari kejauhan ada 6 orang opm bersenjata yang salah satunya memuntahkan peluru laluj 6 orang opm itu pun berlari, melihat itu letda pun berteriak sangat keras ia meneriakan KOMANDO!!!! dimana teriakan itu adalah teriakan khas mereka bila bertemu musuh dihutan kemudian seluruh prajurit pun meneriakan komando pula seraya berlari mengejar orang-orang yang menembaki mereka, mungkin karena setelah belasan jam mengendap tetapi baru sekarang prajurit-prajurit itu menemukan musuh sehingga mereka bersemangat mengejar bahkan sesekali mengeluarkan tembakan kearah opm itu, ternyata peluru yang mereka tembakan tidak sia-sia karena tembakan-tembakan itu mengenai dan melumpuhkan 4 dari 6 orang opm itu namun 2 lainya berhasil kabur, tembakan itu mengenai 4 orang dimana 3 orang tewas seketika dan satu orang lainya sempat diinterogasi sebelum akhirnya tewas juga, lokasi kontak tembak dengan sas sekitar 10 jam dan diperkirakan 6 orang opm tadi berasal dari pos tinjau yang berada tidak terlalu jauh dengan sas.
Tak lama setelah kontak tembak usai kedua regu itu melakukan perjalananya kembali namun setelah mereka berjalan kurang lebih 4 jam dari posisi sebelumnya mereka mendapatkan informasi intelijen bahwa pihak penyandera telah mengetahui akan kedatangan mereka sehingga apabila kedua regu itu memaksa mendekati sas maka sandera akan langsung dieksekusi namun pihak penyandera (OPM) terkesan seperti menantang regu tersebut karena opm telah mengetahui bahwa pasukan yang akan membebaskan sandera itu adalah prajurit baret merah maka pihak penyandera (OPM)memberi syarat apabila menginginkan sandera bebas dan keluar secara hidup-hidup sandera tersebut harus dijemput aleh seorang prajurit (seorang diri) tanpa membawa senjata, radio, bahkan sangkur (pisau komando) setelah mendiskusikan hal tersebut melalui radio terhadap kapten (Dansatgas) yang berada di kota maka diambil keputusan untuk menyanggupi syarat-syarat yang diajukan OPM itu dan mengenai siapa prajurit yang akan menjemput, kapten tersebut menyerahkan keputusannya terhadap kedua regu itu mengingat bahwa merekalah yang paling dekat dengan sas, maka kedua regu yang berjumlah 14 personil itu pun mengundi siapa yang akan berngkat untuk menjemput (merapat ke sas) dan didapatlah seorang bintara berpangkat sersan kepala dimana ia tak lain adalah Danru 5.
Namun hal itu pertamanya ditentang oleh Danru 4 yang berpangkat letda bahwa seharusnya dialah (Danru 4) yang berangkat karena ia (Danru 4) takut bahwa opm tidak akan menepati janjinya sehingga takut jika Danru 5 yang berangkat tidak akan kembali membawa sandera dalam keadaan hidup-hidup bahkan prajurit yang menjemputpun akan ikut dibunuh, sehingga ia (Danru 4) rela mengambil resiko untuk berangkat menjemput sandera karena mengingat dia (Danru 4)adalah satu-satunya perwira di kedua regu tersebut namun Danru 5 tetap bersikukuh bahwa memang dialah (Danru 5) yang harus berangkat karena ia (Danru 5) yakin bahwa penyandera akan menepati janji, lalu sang serka itu pun berbicara sambil tersenyum pada Letda dan mengatakan “biar saya yang berangkat, soalnya bapak kan belum sempat nikah, dan saya yakin Tuhan bersama saya” mendengar kata-kata itu sang Letda dan seluruh personil lain pun terlihat cemas.
Kemudian berangkatlah sang Serka tersebut dengan bermodal keberanian serta nalurinya yang percaya bahwa musuh akan menepati janjinya sebelum berangkat sang Serka melepas helm yang dikenakannya dan menggantinya dengan baret asal kesatuanya yaitu baret merah lalu Letda itu menyarankan agar ia (Danru 5) membawa pistol dan diikatkan dikaki namun sang Serka pun kembali menolak, Serka itu harus menempuh perjalanan kurang lebih 6 jam menuju sas ia berjalan sembari membaca Do’a yang saat itu terlintas dipikiranya dengan maksud agar ia tak gentar apabila bertemu musuh nanti, setelah berjalan selama 4 jam ia bertemu 2 orang anggota opm yang bersenjatakan senapan laras panjang yang ternyata ditugaskan untuk menjemput dia, kemudian salah satu anggota opm itu memeriksa badan dia (Danru 5) dengan maksud memastikan bahwa dia memang tidak membawa senjata, setelah opm itu benar-benar percaya bahwa memang tidak ada senjata yang disembunyikan lalu kedua mata Serka pun ditutup seutas kain, dan merekapun melanjutkan perjalanan, sang Serka berjalan sembari dibayang-bayangi oleh opm yang tak henti-hentinya menodongkan senapan, setelah mereka berjalan selama kurang lebih 2 jam sampailah mereka di suatu gubuk yang terlihat cukup besar yang disekelilingnya dikelilingi oleh anggota-anggota opm yang bersenjata senapan laras panjang hingga panah lengkap beserta anak panahnya, terlihat sekali tatapan anggota opm-opm itu yang sepertinya tidak sabar untuk segera menembak dia (Danru 5). lalu dari dalam gubuk terlihat seorang pria paruh baya yang tak lain adalah pemimpin basis opm daerah itu berjalan keluar menemuinya, lalu serka tadipun diajaknya masuk kedalam dan diperlihatkanlah kondisi kedua sandera yang terlihat sehat walaupun wajah mereka terlihat sangat pucat, lalu pemimpin opm tadi memerintahkan anak buahnya untuk melepaskan ikatan yang terikat pada tangan dan kaki kedua sandera tersebut, setelah ikatan tadi terlepas sang Serka melihat ekspresi bahagia dari kedua sandera tadi lalu mereka bertiga (2 sandera dan Serka) diajak oleh pemimpin opm tadi untuk memakan buah merah disalah satu ruangan, kedua sandera tersebut terlihat sangat lahap sekali sehingga sang Serka pun tersenyum, ketika sang Serka melahap buah merah tadi pemimpin opm berbicara bahwa “baru sekali ini saya melihat kedamaian datang dari seorang prajurit TNI, karena kalian biasanya datang untuk menembak kami namun kali ini tidak lalu Serka pun menjawab, "saya datang kesini tidak lebih hanya untuk menjalankan tugas saya menjemput sandera” mendengar jawaban Serka tersebut pemimpin opm itu terharu lalu mengajak mereka bertiga berfoto bersama, seusai berfoto ketiga orang tersebut (2 sandera dan Serka) berpamitan untuk pulang dan berjalan keluar dari dalam gubuk itu ternyata pemimpin opm tadi memanggil dan terlihat membawa sebuah benda berbentuk kotak dan berukuran kecil yang ternyata adalah walkman, lalu walkman itu pun diberikanya kepada sang Serka sebagai sebuah kenang-kenangan lalu sang Serka pun melepaskan sebuah jam tangan yang dipakai pada lengan kananya dan diberikan untuk pemimpin opm tadi sembari berbisik “ini adalah tanda bahwa saya pernah datang kesini, tolong disimpan” lalu ketiga orang itu pun (2 sandera dan Serka) berjalan untuk pulang dengan mata tertutup kain hitam dengan dikawal dua orang anggota opm bersenjata yang mengantar hingga jarak kurang lebih satu jam menjauh dari gubuk tadi dan akhirnya ketiga orang itu ditinggalkan oleh dua orang opm tadi yang langsung lari menjauh, dan akhirnya sang Serka melepaskan ikatan kain penutup tadi dari kepalanya dan kedua sandera itu lalu mereka melanjutkan kembali berjalan dan beberapa jam kemudian mereka sampai di tempat kedua regu (4 dan 5) itu berkumpul, mereka datang dengan disambut penuh kegembiraan dan keharuan.


note: konon foto itu sampai sekarang masih ada dan terpampang disalah satu basis opm.