skip to main | skip to sidebar

Pages

Tampilkan postingan dengan label Artikel Militer. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Artikel Militer. Tampilkan semua postingan

Selasa, 23 November 2010

Penembak Jitu

0 komentar
Penembak jitu adalah istilah yang dipakai pada bidang militer. Seorang penembak jitu terlatih untuk menembak secara tepat dan akurat dengan menggunakan senapan tipe tertentu. Beberapa doktrin militer memakai penembak jitu yang tergabung dalam infanteri tingkat regu.

Penembak jitu modern sering disamakan dengan penembak runduk (sniper), padahal, keduanya sebenarnya berbeda.




Sejarah

Salah satu awal munculnya penembak jitu adalah dalam Revolusi Amerika. Kompi senapan Amerika, yang dipersenjatai Pennsylvania/Kentucky Long Rifle, menjadi prajurit dalam Tentara Kontinental. Karena keakuratan prajurit-prajurit ini, banyak perwira Inggris yang harus mencopot lambang perwira mereka, agar tidak dijadikan target.

Pemakaian awal penembak jitu lainnya adalah pada Angkatan Darat Inggris di era Napoleon. Ketika itu, tentara lain lebih banyak menggunakan musket yang tidak akurat, tapi Green Jackets Inggris menggunakan senapan Baker yang terkenal. Dengan alur khusus didalam larasnya, senapan ini jauh lebih akurat, walau pengisiannya lebih lama. Para pemakai senapan ini termasuk tentara elit Inggris, dan menjadi garis depan yang diandalkan pada banyak pertempuran.

Penembak jitu juga dipakai pada Perang Saudara Amerika. Penembak jitu ini digunakan oleh kedua pihak yang berperang. Prajurit elit ini terlatih dan dipersenjatai dengan baik, dan juga ditempatkan di garis depan sebagai yang pertama melawan musuh.


Perbedaan penembak runduk dengan penembak jitu

Beberapa doktrin membedakan antara penembak runduk (sniper) dengan penembak jitu (marksman, sharpshooter, atau designated marksman). Sniper terlatih sebagai ahli stealth dan kamuflase, sedangkan penembak jitu tidak. Sniper merupakan bagian terpisah dari regu infanteri, yang juga berfungsi sebagai pengintai dan memberikan informasi lapangan yang sangat berharga, sniper juga memiliki efek psikologis terhadap musuh. Sedangkan penembak jitu tidak memakai kamuflase, dan perannya adalah untuk memperpanjang jarak jangkauan pada tingkat regu.

Penembak jitu umumnya memiliki jangkauan sampai 800 meter, sedangkan sniper bisa sampai 1500 meter atau lebih. Ini dikarenakan sniper pada umumnya menggunakan senapan runduk bolt-action khusus, sedangkan penembak jitu menggunakan senapan semi-otomatis, yang biasanya berupa senapan tempur atau senapan serbu yang dimodifikasi dan ditambah teleskop.

Sniper telah mendapatkan pelatihan khusus untuk menguasai teknik bersembunyi, pemakaian kamuflase, keahlian pengintaian dan pengamatan, serta kemampuan infiltrasi garis depan. Ini membuat sniper memiliki peran strategis yang tidak dimiliki penembak jitu. Penembak jitu dipasang pada tingkat regu, sedangkan sniper pada tingkat batalyon dan tingkat kompi.

Persenjataan
Karena penembak jitu modern tingkat regu (designated marksman) mengisi jeda antara infanteri biasa dengan penembak runduk, senapan penembak jitu juga dirancang sebagai penengah. Senapan penembak jitu harus memiliki jangkauan yang lebih jauh dari senapan serbu (sekitar 500 meter), tapi tidak perlu sampai jangkauan tingkat senapan runduk (lebih dari 1000 meter).

Karakteristik
Sifat-sifat yang sama dengan senapan runduk:
* Bidikan teleskopik
* Peluru yang lebih besar
Sifat-sifat yang sama dengan senapan serbu:
* Kemampuan menembak semi-otomatis
* Kapasitas magasine besar, 10 sampai 30 butir peluru

Adaptasi senapan tempur
Senapan tempur disini adalah senapan semi-otomatis dengan kaliber 7.62 x 51 mm seperti M14, FN FAL, dan HK G3, yang dulu dipensiunkan dan digantikan senapan dengan kaliber lebih kecil 5.56 x 45 mm NATO seperti senapan serbu M16. Senapan tempur ini lebih cocok dirubah menjadi senapan penembak jitu mutlak karena pelurunya yang lebih kuat.
Contoh:

* M21: diadaptasikan dari M14.
* U.S. Marine Corps Designated Marksman Rifle: diadaptasikan dari M14.
* G3SG/1: varian dari HK G3.


Memodifikasi senapan serbu adalah pilihan yang paling mudah dan murah, karena senapan serbu hanya perlu ditambahkan alat bidik teleskop dan tetap menggunakan kaliber yang sama.
Solusi yang lebih efektif adalah mengganti kaliber peluru dengan kaliber lebih besar, dan mengganti laras khusus yang lebih berat.

Contoh senapan penembak jitu yang menggunakan kaliber original:

* US Army Squad Designated Marksman Rifle (SDM-R): adaptasi dari M16.
* U.S.M.C. Squad Advanced Marksman Rifle (SAM-R): adaptasi dari M16.
* M16A2E3: varian dari M16.
* US Navy Mark 12 Mod X Special Purpose Rifle: M16 yang dimodifikasi.

Contoh senapan penembak jitu yang menggunakan kaliber baru:

* Galil Galatz: varian 7.62 x 51 mm dari IMI Galil.
* SR-25: berdasarkan Stoner AR-10.
 
 

Kamis, 04 November 2010

Duel Udara F-16 TNI AU VS F-18 Hornet US NAVY di Pulau Bawean

0 komentar
KRONOLOGI INSIDEN DUEL UDARA F-16 TNI_AU DENGAN F/A-18 



Mungkin diantara anda belum pernah mendengar insiden Bawean. Insiden Bawean adalah duel udara pesawat tempur F-16 TNI-AU dengan pewat tempur F/A 18 Hornet milik Angkatan Laut Amerika Serikat (US Navy) yang menerobos masuk wilayah Indonesia di atas kepulauan Bawean. Ini bukan latihan militer, ini kenyataan.

Tanggal 3 Juli 2003, kawasan udara di atas Pulau Bawean sontak memanas ketika lima pesawat asing yang kemudian diketahui sebagai pesawat F/A 18 Hornet terdeteksi radar TNI AU. Dari pantauan radar kelima Hornet terbang cukup lama, lebih dari satu jam dengan manuver sedang latihan tempur. Untuk sememntara Kosek II Hanudnas (Komando Sektor II Pertahanan Udara Nasional) dan Puponas (Pusat Operasi Pertahanan Udara Nasional) belum melakukan tindakan identifikasi dengan cara mengirimkan pesawat tempur karena kelima Hornet kemudian menghilang dari layar radar.
 

Sekitar dua jam kemudian, Radar Kosek II kembali menangkap manuver Hornet. Karena itu panglima Konanudnas menurunkan perintah untuk segera melakukan identifikasi. Apalagi manuver sejumlah Hornet itu sudah mengganggu penerbangan komersial yang akan menuju ke Surabaya dan Bali serta sama sekali tak ada komunikasi dengan ATC terdekat.
 
Dua pesawat tempur buru sergap F-16 TNI-AU yang masing-masing diawaki Kapten Pnb. Ian Fuadi/Kapten Fajar Adrianto dan Kapten Pnb. Tony Heryanto/Kapten Pnb. Satro Utomosegera disiapkan. Misi kedua F-16 itu sangat jelas yaitu melakukan identifikasi visual dan sebisa mungkin menghindari konfrontasi mengingat keselamatan penerbang merupakan yang utama. Selain itu, para penerbang diminta agar tidak mengunci (lock on) sasaran dengan radar atau rudal sehingga misi identifikasi tidak dianggap mengancam. Namun demikian, untuk mengantisipasi, kedua F-16 masing-masing dua rudal AIM-9 P4 dan 450 butir amunisi kanon kaliber 20 mm.

Menjelang petang, Falcon Fligh F-16 melesat ke udara dan tak lama kemudian kehadiran mereka langsung disambut dua pesawat Hornet. Radar Falcon Fligh segera menangkap kehadiran dua Hornet yang terbang cepat dalam posisi siap tempur. Perang radar atau jamming antara kedua pihak pun berlangsung seru. Yang lebih menegangkan pada saat yang sama, F-16 yang berada pada posisi pertama telah dikunci, lock on oleh radar dan rudal Hornet. F-16 kedua yang terbang dalam posisi supporting Fighter juga dikejar oleh Hornet lainnya. Namun posisi F-16 kedua lebih menguntungkan. Jika memang harus terjadi dog fight ia bisa melancarkan bantuan.

Untuk menghindari sergapan rudal lawan seandainya memang benar-banar diluncurkan, F-16 pertama lalu melakukan manuver menghindar, yakni hard break berbelok tajam hampir 90 derajat ke arah kanan dan kiri serta melakukan gerakan zig-zag. Manuver tempur itu dilakukan secara bergantian baik oleh F-16 maupun Hornet yang terus ketat menempel. Melihat keadaan yang semakin memanas, F-16 kedua lalu mengambil inisiatif menggoyang sayap (rocking wing) sebagai tanda bahwa kedua pesawat F-16 TNI-AU tidak mempunyai maksud mengancam.

Sekitar satu menit kemudian, kedua F-16 berhasil berkomunikasi dengan kedua Hornet yang mencegat mereka. Dari komunikasi singkat itu akhirnya diketahui bahwa mereka mengklaim sedang terbang di wilayah perairan internasional. “We are F-18 Hornets from US Navy Fleet, our position on International Water, stay away from our warship”. F-16 pertama lalu menjelaskan bahwa mereka sedang melaksanakan patroli dan bertugas mengidentifikasi visual serta memberi tahu bahwa posisi F-18 berada di wilayah Indonesia. Mereka juga diminta mengontak ke ATC setempat, karena ATC terdekat Bali Control belum mengetahui status mereka.

Usai kontak Hornet AS itu terbang menjauh sedang kedua F-16 TNI-AU return to base, kembali ke pangkalannya Lanud Iswahjudi Madiun. Selain berhasil bertemu dengan Hornet, kedua F-16 TNI-AU juga melihat sebuah kapal perang Frigat yang sedang berlayar ke arah timur. Setelah kedua F-16 mendarat selamat di pangkalan TNI-AU menerima laporan dari MCC Rai (ATC Bali) bahwa fligh Hornet merupakan bagian dari armada US Navy. Namun yang paling penting dan merupakan tolak ukur suksesnya tugas F-16, Hornet AL AS itu baru saja mengontak MCC RAI dan melaporkan kegiatannya.

Keesokan harinya TNI-AU terus mengadakan pemantauan terhadap konvoi armada laut AS itu dengan mengirimkan pesawat intai B737. Hasil pengintaian dan pemotretan menunjukkan bahwa armada laut AS yang terdiri dari kapal induk USS Carl Vinson, dua frigat dan satu destroyer sedang berlayar diantara Pulau Madura dan Kangean menuju Selat Lombok. Selama operasi pengintaian itu pesawat surveillance B737 terus dibanyangi dua F/A 18 Hornet AL AS. Bahan-bahan yang didapat dari misi itu kemudian dipakai oleh pemerintah untuk melancarkan “keberatan” secara diplomatik terhadap pemerintah AS.

Pelda P.L. Tobing, Penyergap Pembajak Pesawat Garuda Woyla

0 komentar
“Tunjukkan jati dirimu, lebih baik kita pulang nama dari pada gagal di medan laga”. Perintah Alm Jenderal TNI LB Murdhani itulah yang memotivasi semangat pengabdian dan pengorbanan Pelda Pontas Lumban Tobing berani berhadapan langsung dengan pembajak untuk membebaskan para penumpang pesawat Garuda Woyla yang disandera pembajak di Don Muang Thailand. Atas jasanya itu Pelda Pontas Lumban Tobing menerima anugerah kehormatan medali “Bintang Sakti Mahawira Ibu Pertiwi” sebagai penghargaan atas pengabdian dan pengorbanannya yang patut dijadikan suri tauladan bagi semua generasi penerus prajurit TNI. Pembebasan penumpang pesawat Garuda DC-9 Woyla di bandara Don Muang Thailand merupakan peristiwa spektakuler, bahkan banyak yang menilai keberhasilan itu melebihi keberhasilan Israel dalam membebaskan sandera di Entebbe Uganda. Keberhasilan TNI dalam hal ini Kopassus dalam aksi pembebasan sandera itu tidak lepas dari perang Pelda Pontas Lumban Tobing salah seorang anggota Kopassus yang tergabung dalam tim pembebasan dan bertindak sebagai penyergap bersama temannya almarhum Ahmad Kirang yang gugur dalam aksi itu. Pak Tobing demikian ia dipanggil sehari-hari rela telah menunjukkan keberanian dan ketebalan tekad melampaui dan melebihi panggilan kewajiban dalam melaksanakan tugas mulia. Dia dan alm Ahmad Kirang mendobrak pintu pesawat DC-9 Garuda Woyla menyergap masuk menghadapi para pembajak yang berjumlah 5 (lima) orang bersenjata lengkap.Dia dan alm Ahmad kirang langsung berhadapan dengan para pembajak dan saat itu pula juga terjadilah tembak menembak yang tidak seimbang antara penyergap melawan pembajak. Dua anggota TNI Pelda Pontas Lumban Tobing dengan Capa Ahmad Kirang melawan lima pembajak pembajak ditengah histeria ketakutan para penumpang pesawat DC-9 Garuda Woyla di Bandara Don Muang. Dua orang yang belum bisa membedakan mana pembajak dan mana penumpang. Sementara pembajak sudah siap menghamburkan pelurunya kepada siapapun penerobos yang akan membebaskan para sandera. Dalam adu tembak yang berlangsung tidak lebih dari 5 menit itu 4 pembajak berhasil ditembak mati dan satu orang lainnya dilumpuhkan. Capa Ahmad Kirang gugur dalam aksi penyelamatan sandera itu dengan sejumlah luka tembak di badannya. Sementara Pelda Tobing sendiri kena dua tembakan masing-masing dibagian rusuk dan tangannya.

Pelda Tobing yang pensiun dengan pangkat Kapten menjelaskan bahwa ia tidak mengira, namun bangga ditunjuk menjadi anggota tim pembebasan pesawat Garuda yang disandera oleh pembajak di Don Muang dibawah pimpinan dua perwira yang sangat ia segani yaitu Jenderal TNI Alm LB Murdhani yang saat itu berpangkat Letjen dan Letjen TNI Purn Sintong Panjaitan yang saat itu masih berpangkat Letkol. PL Tobing ketika dipanggil untuk menjadi anggota tim pembebasan saat itu ia masih bertugas di Salemba sebagai pelatih komandan batalyon resimen mahasiswa dari seluruh perguruan tinggi di Indonesia.

“Pada tanggal 29 Maret 1981 pagi-pagi, tiba-tiba saya mendapatkan telepon dari Markas Kopassus (saat itu masih Kopassandha) yang menurut anak buah saya katanya dari Letkol Sintong Panjaitan”, ungkapnya. Sintong Panjaitan memerintahkannya segera ke Cijantung secepatnya. “Saya lihat dibawah sudah menunggu anggota Provost yang siap menjemput saya ke Cijantung, saat itu pula saya berangkat ke Cijantung tetapi saya tidak tahu tugas apa yang harus saya laksanakan”, imbuhnya.

Dia mendapatkan penjelasan di Cijantung langsung dari Sintong Panjaitan bahwa tanggal 28 Maret 1981 pesawat Garuda Woyla di bajak di Don Muang Thailand. Pasukan TNI dari Kopassandha dibawah pimpinan Letkol Sintong Panjaitan dan dibawah koordinasi langsung Letjen TNI LB Murdhani memiliki tugas membebaskan para sandera dan melumpuhkan pembajak.

Pada hari itu juga, menurut PL Tobing Tim Khusus yang berjumlah 30 orang dengan berpakaian sipil diberangkatkan ke Don Muang dengan menumpang pesawat garuda jenis DC-10. Menurut Tobing semua penumpang nampak gelisah dan ditengah-tengah kegelisahan itu tiba-tiba muncul perintah dari Letjen TNI LB Murdhani agar seluruh prajurit memakai seragam lengkap Kopassandha. “Tunjukkan jati dirimu, lebih baik kita pulang nama dari pada gagal di medan laga. Kata-kata itulah yang memotivasi semangat dan keberanian saya untuk berhadapan langsung dengan pembajak dan membebaskan para penumpang yang disandera meskipun harus mengorbankan nyawa saya “, pengakuan Tobing. Maka saya yang ditugaskan sebagai penyergap bersama almarhum Ahmad Kirang tidak gentar sama sekali mendobrak pintu pesawat yang dibajak dan langsung berhadapan dengan para pembajak, tambahnya.

PL Tobing dan Ahmad Kirang mendobrak pintu utama untuk menerobos pesawat yang dibajak, meskipun awalnya sesuai rencana di perintahkan masuk melalui pintu darurat. “Pertimbangan saya dan Ahmad Kirang kalau secara senyap masuk melalui pintu darurat begitu nongol akan di gorok pembajak dan kita tidak bisa membedakan mana pembajak dan mana penumpang, maka kita berinisiatif dan memutuskan untuk melalui pintu utama”, jelas Tobing. Ketika berhasil mendobrak pintu dan masuk ke pesawat saya langsung berteriak sekeras-kerasnya” Penumpang Tiaraaaaappp” dengan harapan semua penumpang tiarap kecuali pembajak untuk membedakannya, karena kita memang tidak bisa membedakannya dan kita belum bisa melihat apa-apa di badan pesawat karena mata kita masih beradaptasi, tambahnya. Ternyata apa yang dilakukan Tobing memang benar adanya. Seluruh penumpang tiarap keculai pembajak yang saat itu langsung memberondongnya dengan tembakan.

Seperti dituturkanya, kejadian tembak menembak itu telah menewaskan teman seperjuangannya Capa Ahmad Kirang dan dia sendiri mengalami dua luka tembak yang terpaksa mengharuskan dia dirawat di Rumah Sakit Gatot Subroto beberapa waktu lamanya. Namun Tim Khusus dari Kopassandha dan tentu saja karena semangat pengabdian dan pengorbanan 2 orang tim penyergap yaitu almarhum Lettu Anumerta Ahmad Kirang dan Pelda Pontas Lumban Tobing ini telah berhasil menambah torehan emasnya membebaskan para penumpang pesawat DC-9 Garuda Woyla di Don Muang Thailand. Atas jasanya itu Pelda Pontas Lumban Tobing menerima anugerah kehormatan medali “Bintang Sakti Mahawira Ibu Pertiwi” sebagai penghargaan atas pengabdian dan pengorbanannya yang patut dijadikan suri tauladan bagi semua generasi penerus prajurit TNI.

Ketika ditanya tentang perasaan apa setelah ia berhasil melaksanakan tugas pembebasan penumpang pesawat Garuda Woyla yang sangat spektakuler itu PL Tobing dengan rendah hati dan jujur mengaku bangga. “ Saya dianugerahi Bintang Maha Sakti dan mendapatkan kenaikan pangkat luar biasa setingkat lebih tinggi menjadi Peltu“, ungkapnya. Namun jujur saya katakan kenaikan pangkat luar biasa itu bagi saya kurang tepat, karena tanpa kenaikan pangkat luar biasa itu sebetulnya saya sudah diusulkan oleh satuan naik pangkat secara reguler menjadi Peltu. Memang hal ini pernah menjadi pembicaraan di kalangan satuan saya, tapi biarlah yang penting kita dapat melaksanakan tugas dengan baik. “Tapi saya pesan moga-moga pimpinan TNI memperhatikan kehidupan para penyandang kehormatan Bintang Maha Sakti ini yang jumlahnya tidak banyak. Kan bapak-bapak akan repot sekali bila harus mengangkat jenasah saya dari rumah ini menuju TMP, karena rumah saya yang jelek dan berada di gang sempit ini”, pesan PL Tobing.

“Memang betul apa yang dikatakan Pak LB Murdhani, lebih baik pulang nama dari pada gagal di medan laga, dan itu saya kira harus ditanamkan dalam jiwa seluruh prajurit TNI”, ungkapnya. Semangat ini yang harus dipelihara, karena saya lihat sudah banyak yang mulai luntur. Rata-rata hanya mengejar materi. “Kita harus bisa membedakan mana yang emas 22 karat, mana emas palsu. Mana perunggu? Dan hal ini yang harus dimiliki oleh para pemimpin TNI terutama dalam menilai anak buah yang diharapkan menjadi calon pemimpin masa depan”, tuturnya. Pembinaan karir jangan hanya didasarkan pendidikan saja, tapi juga harus didasarkan pengalaman dan pengabdiannya, tambahnya.

Sulitnya Meraih Baret Intai Amfibi, Pasukan Elite Marinir...

1 komentar
Sulitnya Meraih Baret Intai Amfibi, Pasukan Elite Marinir..Dengan Kaki dan Tangan Terikat, Dibuang ke Laut 

“Di Karang Tekok, Situbondo, Jatim, saat ini sedang berlangsung pendidikan Sekolah Khusus Marinir yang diikuti 54 siswa. Mereka berjuang untuk meraih baret Pasukan Intai Amfibi (Taifib). Bagaimana beratnya latihan itu?


 



SUUD RUSLI, mantan anggota Marinir yang kabur dari sel Lantamal II Jakarta merupakan salah seorang penyandang baret Taifib. Karena itu, untuk meringkus pembunuh bos PT Asaba tersebut, jajaran pimpinan TNI Angkatan Laut mengerahkan hampir satu peleton tim gabungan.
TNI-AL sadar bahwa Suud adalah salah seorang prajurit Marinir yang mempunyai kemampuan luar biasa. Jago tembak. Sebagai anggota Taifib, dia mempunyai pengalaman dalam berbagai operasi khusus. Untuk melukiskan kemampuan Taifib itu, ada yang menganggap kemampuan satu pasukan Taifib setara dengan sepuluh pasukan biasa.
Para pemburu Suud tak mau gegabah, meski sasarannya sudah diketahui pasti. Dikhawatirkan Suud yang dikenal sebagai penembak jitu tersebut bereaksi. Tapi, untungnya, ketelatenan tim pemburu yang sebagian juga anggota Taifib tersebut berhasil meringkus Suud di Jalan Sumbersari, Desa Sumbersari, Kota Malang. ”Menghadapi Suud bukanlah hal yang mudah karena dia mantan pasukan khsusus yang mempunyai kemampuan lebih daripada prajurit Marinir biasa,” jelas salah seorang perwira TNI-AL.

Itulah gambaran bahwa lulusan pendidikan Taifib disegani sekaligus ditakuti. Mereka adalah pasukan inti di Kesatuan Marinir yang mempunyai kemampuan di atas rata-rata. Kemampuan tersebut diraih setelah ditempa melalui pendidikan yang sangat ketat serta melewati ujian yang sangat berat selama sepuluh bulan.
Tidak heran, di antara ratusan prajurit yang mengikuti seleksi pendidikan Taifib, hanya 54 orang yang diterima pada tahun ini. Mereka itulah yang sedang digodok di kawah candradimuka di Situbondo itu. Tahun-tahun sebelumnya, sering hanya belasan prajurit yang memenuhi syarat. Mereka yang tak lulus dikembalikan ke kesatuannya semula di Marinir.
Tidak semua yang mengikuti pendidikan tersebut lolos. ”Saya mendapat laporan, dua di antara mereka (di antara 54 yang sedang pendidikan, Red) dimungkinkan dikembalikan ke kesatuannya karena tidak mampu mengikuti pendidikan,” jelas Letkol Laut (KH) Tony Saiful, perwira penerangan Kodikal.
Selain fisik prima, calon Taifib juga dituntut memiliki IQ tinggi. Sebab, pasukan elite yang sering digunakan untuk penyusupan di daerah operasi itu harus mampu menghadapi berbagai masalah, baik secara individu maupun kelompok.
Selama pendidikan, teori di kelas hanya 20 persen. Selebihnya di lapangan, seperti hutan, laut, bahkan udara. Mereka harus mempunyai kemampuan terbaik di darat, laut, dan udara. Mereka dituntut mampu melaksanakan tugas rahasia secara sempurna di ketiga medan tersebut.
Untuk mencapai semua itu, diperlukan pendidikan yang sangat keras dan ketat. Mereka harus mampu menyusup dengan terjun payung, bergerak lincah di laut dengan daya tahan tinggi, serta survive di darat.


Mereka ditempa di tengah ombak ganas di Laut Banyuwangi, yang biasanya menghanyutkan perahu nelayan. Dengan tangan dan kaki diikat, para prajurit tersebut dibuang ke laut ganas itu. Mereka harus mampu bertahan sekaligus menyelamatkan diri. “Latihan mereka cukup berat. Kaki dan tangan diikat pun bisa hidup.

Kenapa sampai demikian? Bila sewaktu-waktu prajurit trimedia (menguasai medan darat, laut, dan udara) itu dibuang ke laut dalam keadaan tangan dan kaki terikat oleh musuh, mereka akan mampu menyelamatkan diri.
Setelah melawan ombak besar di laut, mereka juga dituntut bertahan hidup di hutan tanpa perbekalan sedikit pun. Untuk menguji daya tahannya itu, para prajurit terpilih tersebut dilepas di tengah hutan dengan hanya bermodalkan garam. Air minum pun tidak diperkenankan dibawa. Selebihnya, cari sendiri di hutan. Latihan itu dilakukan di Alas Purwo. Di sana, mereka dilepas untuk melatih ketahanan fisik dan kemampuan perorangan.
Di tengah hutan, mereka harus bertahan berhari-hari. Mereka tak jarang hanya makan binatang buas, seperti ular. Bila mampu menangkap monyet, hewan itu pulalah yang disantap. Selama tiga hari tiga malam, mereka tidur di tengah hutan rimba tersebut. Kadang-kadang,  juga lebih,
“Saya pernah minum air untuk tambal ban di pinggir jalan Alas Purwo,” cerita mantan Direktur Sekolah Khusus (Dirsus) Marinir Kol (Mar) Buyung Lalana. “Meski air itu siang harinya digunakan untuk mengetes ban mobil dan sepeda motor yang pecah, rasanya nikmat sekali karena begitu haus,” kenang Buyung lagi.
Itu semua belum cukup. Soal pukul-memukul oleh instruktur untuk melatih mental bukanlah hal aneh di kalangan mereka. Saya pernah menyaksikan betapa kerasnya pelonco dari kakak angkatan untuk prajurit yang mengawali pendidikan. Mereka benar-benar harus siap mental dan fisik. Begitu kerasnya, tidaklah heran kalau di awal pendidikan itu, ada yang mengundurkan diri.
Untuk latihan udara, mereka bukan lagi dilatih terjun tempur seperti prajurit biasa. Kalau terjun tempur, begitu keluar dari pintu pesawat, payung sudah terbuka. Tapi, Taifib dilatih terjun bebas.
Yang menarik, terjun bebas itu tidak saja dilakukan siang, tapi juga tengah malam. Dengan begitu, bila sewaktu-waktu masuk ke sasaran musuh, mereka tidak harus lewat darat atau laut yang mudah dideteksi lawan. Para Taifib juga bisa diturunkan dari pesawat dengan ketinggian yang sulit terdeteksi musuh.
Saya juga pernah menyaksikan latihan terjun malam di pengeboran gas Pulau Pagerungan, sebuah pulau kecil masuk wilayah Sumenep dekat Selat Lombok. Mereka diterjunkan di keheningan malam. Prajurit tersebut bisa mendarat dengan tepat di celah-celah pohon mangga dan kelapa pinggir pantai.
Untuk menghindari pendeteksian musuh, mereka harus piawai menyelam. Dengan menggunakan kompas, sambil menghitung derajat daerah sasaran, para Taifib harus bisa muncul di titik yang tepat.
Itu baru tahap latihan. Bila pelantikan atau dikenal dengan pembaretan, mereka harus jalan kaki siang malam. Itu sering dilakukan Banyuwangi-Surabaya. Mereka dilepas di Banyuwangi dan diperintahkan kumpul di Surabaya dalam waktu yang ditentukan. Bila naik kendaraan dan ketahuan instruktur, hukuman berat bakal dirasakan. Baretnya pun bakal tak hinggap di kepala. Wooww

Kisah Kopassus Membebaskan Sandera di Papua

0 komentar
“Tulisan ini adalah rangkuman dari tulisan asli pelaku tanpa melebih-lebihkan bahkan menyimpangi kejadian yang sebenarnya. nama-nama pelaku, nama satgas, serta daerah kejadian saya samarkan dengan tujuan agar kerahasiaan pelaku-pelaku didalamnya dapat terjaga.”


“Kisah ini bukanlah kisah operasi pembebasan sandera di mapenduma bahkan tidak ada hubunganya dengan tragedi penyanderaan itu namun kisah ini terjadi beberapa tahun silam sebelum terjadinya tragedi penyanderaan di mapenduma”

Irian Jaya1987, saat it pasukan komando diterjunkan di bumi cendrawasih dengan tugas membendung aksi separatisme yang kian marak terjadi, pasukan itu diberi nama satgas M…., satgas itu dipecah menjadi 5 regu kecil yang di pimpin oleh perwira berpangkat letnan dan ada juga bintara berpangkat sersan. dan satu regu inti yang dipimpin oleh seorang perwira pertama berpangkat kapten dimana regu-regu yang tergabung dalam satgas M…. itu ditempatkan di beberapa daerah rawan di Irian Jaya, seluruh anggota satgas ini pada awalnya ditempatkan secara terbuka dan membaur dengan masyarakat walhasil satgas ini cukup diterima oleh para penduduk didaerah dimana mereka ditempatkan, hal tersebut terbukti dengan disambutnya mereka semenjak kedatangan pertama kalinya kedaerah tersebut, sebenarnya ada salah satu regu yang merasa dongkol karena dikelabui oleh sikap ramah penduduk yang awal mulanya menawarkan mereka untuk bermalam disalah satu rumah yang menurut seorang kepala desa dan juga warga sekitar adalah tempat yang aman, namun karena regu itu melihat kepolosan dan niat baik warga yang ramah terhadap mereka sehingga sang Danru yang berpangkat sersan kepala (Serka) itu menerima ajakan tersebut dengan senang hati, kemudian Danru memerintahkan seluruh anggotanya untuk menaruh ransel dan beristirahat dirumah yang telah disediakan itu, Danru pun menyusul anggotanya yang sudah terlebih dulu masuk kerumah karena sebelumnya ia bercakap-cakap dulu dengan kepala desa di halaman rumah itu, lalu sekitar pukul 20:00 kepala desa dan beberapa warganya membawa makanan yang khusus dibuatkan untuk menjamu regu itu, lalu merekapun (regu) melahap dan menikmati makanan itu karena mereka (regu) menyadari sejak kedatangannya siang tadi mereka belum makan sedikitpun lalu setelah mereka makan, mereka pun sempat berbincang-bincang untuk mengakrabkan dengan warga namun tak terasa waktu sudah larut malam bahkan bisa dikatakan sudah tengah malam lalu warga pun pulang, setelah itu Danru membagi 2 giliran untuk berjaga diteras. dimana 3 orang berjaga dan 3 lainya serta Danru beristirahat tidur.

*KONTAK TEMBAK PERTAMA*
kurang lebih baru sekitar 45 menit 3 personil yang mendapat kesempatan berjaga giliran pertama, rumah itu dihujani peluru oleh sekelompok orang tak dikenal dan ternyata setelah dilakukan pengejaran dan berhasil menangkap, sekelompok orang yang memuntahkan peluru kearah rumah itu adalah OPM yang mendapat laporan dari kepala desa dan warga tadi, ternyata kepala daerah dan beberapa warga tersebut memang diancam OPM untuk melapor apabila ada pasukan TNI dikampungnya. memasuki minggu kedua satgas M…. bertugas, hampir seluruh regu telah mengalami kontak tembak, bahkan ada salah satu regu yang telah mengalami sebanyak 3 kali kontak tembak dengan kelompok separatis.

*MENJADI PENGHUNI HUTAN*
Menginjak bulan kedua pada masa penugasan 3 dari 6 regu diperintahkan untuk mengikis musuh di hutan-hutan, mereka setidaknya akan menjadi penghuni hutan selama 2 bulan, karena setiap 2 bulan sekali mereka akan berganti posisi dengan 3 regu lainya di kota, mereka yang bertugas menjadi penghuni hutan bertugas melakukan pengejaran bahkan tidak jarang juga melakukan penyerbuan sehingga nama satgas ini dikalangan musuh cukup ditakuti, karena satgas ini dalam berbagai kontak tembak sering sekali berhasil menembak mati musuhnya dan juga cukup membuat musuh kewalahan dan juga tidak jarang pula satgas itu melakukan penyerangan dan penyergapan yang tidak terduga bahkan sulit ditebak terhadap basis-basis musuh di pedalaman hutan di Irian Jaya. pada saat rotasi pertama yaitu tepatnya pada saat menginjak bulan ke 4 pasukan yang bertugas dihutan mendapat tugas yang cukup berat yaitu karena pada saat 3 hari setelah mereka melakukan rotasi dengan regu yang bertugas sebelumnya terjadi penculikan terhadap 2 orang warga sipil asal pulau jawa yang berprofesi sebagai jurnalis, kedua orang itu diculik dan ditawan oleh opm ketika dia mewawancarai warga salah satu suku pedalaman didaerah W….. tujuan mereka datang ke irian adalah untuk menulis tentang bagaimana kehidupan suku pedalaman di irian. berita tentang penculikan tersebut didapat dari beberapa orang warga yang menjadi saksi dan juga diyakinkan oleh berita intelijen dilapangan
*MINUM AIR KUBANGAN BABI*
Kabar penculikan tersebut tersiar hingga Jakarta sehingga petinggi militer pun memerintahkan pasukan TNI untuk membebaskan drama penculikan tersebut, dan ternyata regu 4 dan 5 dari satgas M lah yang diberi amanat untuk membebaskan sandera tersebut dikarenakan posisi kedua regu itulah yang paling dekat dengan sas, setelah mendapat PO dari DanSatgas mereka pun berangkat menjalankan operasi yang telah diperintahkan dimana regu 4 diperintahkan sebagai penyerbu dan penjemput sandera sedangkan regu 5 sebagai penutup pelarian. menurut berita intelijen penyandera menyekap sandera tersebut disebuah hutan di pegunungan didaerah W….., regu 4 berangkat terlebih dahulu dengan selang waktu kurang lebih 1/2 jam dan disusul regu 5, perjalanan menuju sas krg lebih memakan waktu 2 hari dengan berjalan kaki, regu tersebut hanya membawa logistik makanan seminim mungkin yang sepertinya memang tidak cukup untuk 2 hari, hal tersebut dikarenakan bahwa posisi sas yang tidak terlalu jauh serta agar kerahasiaan operasi tetap terjaga dimana mereka mengantisipasi akan adanya beberapa pos tinjau opm, mereka membawa senjata serta peluru sedikit lebih banyak sebagai cadangan dan tak lupa juga membawa air yang mereka isikan pada peples.
Setelah melakukan pengendapan selama kurang lebih 18 jam kedua regu itu memutuskan untuk beristirahat makan dan tidur sejenak, mereka beristirahat dibawah rimbunya dedaunan bahkan ada pula yang tertidur di atas dahan pepohonan setelah kurang lebih 3 jam mereka beristirahat mereka melanjutkan kembali pengendapan namun sekarang regu 5 mengendap bersama-sama dengan regu 4, setelah lebih kurang 8 jam mereka mengendap ternyata mereka menyadari bahwa seluruh air dalam peples personil sudah habis sedari mereka terakhir beristirahat beberapa jam lalu dan dehidrasi pun tidak dapat dihindari namun mereka tetap melanjutkan pengendapan, tak disangka setelah 1 jam mereka berjalan betapa senangnya mereka karena menemukan sebuah genangan air atau bisa juga disebut kolam kecil meskipun air tersebut keruh bahkan berwarna cokelat ternyata setelah diamati air itu adalah air bekas kubangan babi, namun tanpa berpikir panjang seluruh anggota pun meminumnya bahkan ada sebagian yang menggunakan helmnya sebagai gelas bahkan ada pula yang mengisi peplesnya dengan air tersebut, mereka pun melanjutkan kembali perjalananya, setelah mereka berjalan kurang lebih 3 jam mereka mendengar suara gemuruh seperti suara air di sungai lalu mereka mendekat ke arah suara tersebut berasal dan ternyata dugaan mereka benar, suara itu memang suara gemuruh air sungai dengan air yang jernih, melihat sungai itu beberapa anggotapun mengumpat karena betapa dongkolnya mereka karena jika saja mereka bersabar untuk tidak meminum air kubangan babi tadi, tanpa ada yang mengkomando semua personil pun meminum air sungai yang jernih tersebut untuk memuaskan dan melampiaskan rasa kesal mereka bahkan air dalam peples yang mereka isi dengan air kubangan babi tadi pun mereka buang dan mereka ganti dengan air yang jernih itu.
*PEMBEBASAN SANDERA*
pada saat mereka akan bergegas untuk melanjutkan perjalanan bahkan ada beberapa prajurit yang masih meminum air terdengar suara desingan peluru yang ternyata mengarah kepada mereka dan seorang letda danru 4 melihat dari kejauhan ada 6 orang opm bersenjata yang salah satunya memuntahkan peluru laluj 6 orang opm itu pun berlari, melihat itu letda pun berteriak sangat keras ia meneriakan KOMANDO!!!! dimana teriakan itu adalah teriakan khas mereka bila bertemu musuh dihutan kemudian seluruh prajurit pun meneriakan komando pula seraya berlari mengejar orang-orang yang menembaki mereka, mungkin karena setelah belasan jam mengendap tetapi baru sekarang prajurit-prajurit itu menemukan musuh sehingga mereka bersemangat mengejar bahkan sesekali mengeluarkan tembakan kearah opm itu, ternyata peluru yang mereka tembakan tidak sia-sia karena tembakan-tembakan itu mengenai dan melumpuhkan 4 dari 6 orang opm itu namun 2 lainya berhasil kabur, tembakan itu mengenai 4 orang dimana 3 orang tewas seketika dan satu orang lainya sempat diinterogasi sebelum akhirnya tewas juga, lokasi kontak tembak dengan sas sekitar 10 jam dan diperkirakan 6 orang opm tadi berasal dari pos tinjau yang berada tidak terlalu jauh dengan sas.
Tak lama setelah kontak tembak usai kedua regu itu melakukan perjalananya kembali namun setelah mereka berjalan kurang lebih 4 jam dari posisi sebelumnya mereka mendapatkan informasi intelijen bahwa pihak penyandera telah mengetahui akan kedatangan mereka sehingga apabila kedua regu itu memaksa mendekati sas maka sandera akan langsung dieksekusi namun pihak penyandera (OPM) terkesan seperti menantang regu tersebut karena opm telah mengetahui bahwa pasukan yang akan membebaskan sandera itu adalah prajurit baret merah maka pihak penyandera (OPM)memberi syarat apabila menginginkan sandera bebas dan keluar secara hidup-hidup sandera tersebut harus dijemput aleh seorang prajurit (seorang diri) tanpa membawa senjata, radio, bahkan sangkur (pisau komando) setelah mendiskusikan hal tersebut melalui radio terhadap kapten (Dansatgas) yang berada di kota maka diambil keputusan untuk menyanggupi syarat-syarat yang diajukan OPM itu dan mengenai siapa prajurit yang akan menjemput, kapten tersebut menyerahkan keputusannya terhadap kedua regu itu mengingat bahwa merekalah yang paling dekat dengan sas, maka kedua regu yang berjumlah 14 personil itu pun mengundi siapa yang akan berngkat untuk menjemput (merapat ke sas) dan didapatlah seorang bintara berpangkat sersan kepala dimana ia tak lain adalah Danru 5.
Namun hal itu pertamanya ditentang oleh Danru 4 yang berpangkat letda bahwa seharusnya dialah (Danru 4) yang berangkat karena ia (Danru 4) takut bahwa opm tidak akan menepati janjinya sehingga takut jika Danru 5 yang berangkat tidak akan kembali membawa sandera dalam keadaan hidup-hidup bahkan prajurit yang menjemputpun akan ikut dibunuh, sehingga ia (Danru 4) rela mengambil resiko untuk berangkat menjemput sandera karena mengingat dia (Danru 4)adalah satu-satunya perwira di kedua regu tersebut namun Danru 5 tetap bersikukuh bahwa memang dialah (Danru 5) yang harus berangkat karena ia (Danru 5) yakin bahwa penyandera akan menepati janji, lalu sang serka itu pun berbicara sambil tersenyum pada Letda dan mengatakan “biar saya yang berangkat, soalnya bapak kan belum sempat nikah, dan saya yakin Tuhan bersama saya” mendengar kata-kata itu sang Letda dan seluruh personil lain pun terlihat cemas.
Kemudian berangkatlah sang Serka tersebut dengan bermodal keberanian serta nalurinya yang percaya bahwa musuh akan menepati janjinya sebelum berangkat sang Serka melepas helm yang dikenakannya dan menggantinya dengan baret asal kesatuanya yaitu baret merah lalu Letda itu menyarankan agar ia (Danru 5) membawa pistol dan diikatkan dikaki namun sang Serka pun kembali menolak, Serka itu harus menempuh perjalanan kurang lebih 6 jam menuju sas ia berjalan sembari membaca Do’a yang saat itu terlintas dipikiranya dengan maksud agar ia tak gentar apabila bertemu musuh nanti, setelah berjalan selama 4 jam ia bertemu 2 orang anggota opm yang bersenjatakan senapan laras panjang yang ternyata ditugaskan untuk menjemput dia, kemudian salah satu anggota opm itu memeriksa badan dia (Danru 5) dengan maksud memastikan bahwa dia memang tidak membawa senjata, setelah opm itu benar-benar percaya bahwa memang tidak ada senjata yang disembunyikan lalu kedua mata Serka pun ditutup seutas kain, dan merekapun melanjutkan perjalanan, sang Serka berjalan sembari dibayang-bayangi oleh opm yang tak henti-hentinya menodongkan senapan, setelah mereka berjalan selama kurang lebih 2 jam sampailah mereka di suatu gubuk yang terlihat cukup besar yang disekelilingnya dikelilingi oleh anggota-anggota opm yang bersenjata senapan laras panjang hingga panah lengkap beserta anak panahnya, terlihat sekali tatapan anggota opm-opm itu yang sepertinya tidak sabar untuk segera menembak dia (Danru 5). lalu dari dalam gubuk terlihat seorang pria paruh baya yang tak lain adalah pemimpin basis opm daerah itu berjalan keluar menemuinya, lalu serka tadipun diajaknya masuk kedalam dan diperlihatkanlah kondisi kedua sandera yang terlihat sehat walaupun wajah mereka terlihat sangat pucat, lalu pemimpin opm tadi memerintahkan anak buahnya untuk melepaskan ikatan yang terikat pada tangan dan kaki kedua sandera tersebut, setelah ikatan tadi terlepas sang Serka melihat ekspresi bahagia dari kedua sandera tadi lalu mereka bertiga (2 sandera dan Serka) diajak oleh pemimpin opm tadi untuk memakan buah merah disalah satu ruangan, kedua sandera tersebut terlihat sangat lahap sekali sehingga sang Serka pun tersenyum, ketika sang Serka melahap buah merah tadi pemimpin opm berbicara bahwa “baru sekali ini saya melihat kedamaian datang dari seorang prajurit TNI, karena kalian biasanya datang untuk menembak kami namun kali ini tidak lalu Serka pun menjawab, "saya datang kesini tidak lebih hanya untuk menjalankan tugas saya menjemput sandera” mendengar jawaban Serka tersebut pemimpin opm itu terharu lalu mengajak mereka bertiga berfoto bersama, seusai berfoto ketiga orang tersebut (2 sandera dan Serka) berpamitan untuk pulang dan berjalan keluar dari dalam gubuk itu ternyata pemimpin opm tadi memanggil dan terlihat membawa sebuah benda berbentuk kotak dan berukuran kecil yang ternyata adalah walkman, lalu walkman itu pun diberikanya kepada sang Serka sebagai sebuah kenang-kenangan lalu sang Serka pun melepaskan sebuah jam tangan yang dipakai pada lengan kananya dan diberikan untuk pemimpin opm tadi sembari berbisik “ini adalah tanda bahwa saya pernah datang kesini, tolong disimpan” lalu ketiga orang itu pun (2 sandera dan Serka) berjalan untuk pulang dengan mata tertutup kain hitam dengan dikawal dua orang anggota opm bersenjata yang mengantar hingga jarak kurang lebih satu jam menjauh dari gubuk tadi dan akhirnya ketiga orang itu ditinggalkan oleh dua orang opm tadi yang langsung lari menjauh, dan akhirnya sang Serka melepaskan ikatan kain penutup tadi dari kepalanya dan kedua sandera itu lalu mereka melanjutkan kembali berjalan dan beberapa jam kemudian mereka sampai di tempat kedua regu (4 dan 5) itu berkumpul, mereka datang dengan disambut penuh kegembiraan dan keharuan.


note: konon foto itu sampai sekarang masih ada dan terpampang disalah satu basis opm.